Welcome to Global Rescue Network Site,

GRN is an Indonesian Non Governmental Organization based on a network of people and various institutions which organized the network and various resources to provide Rescue & Relief Operations in response to various disasters. We already have involved in many disasters in Indonesia such as:

  • Aceh Operation, 2004 - 2005
  • Nias Operation, 2005
  • Siaga Merapi Operation, 2006
  • Jogjakarta & Central of Java Operation, 2006
  • Gorontalo Operation, 2006
  • Pantai Selatan operation, 2006
  • Jakarta Flood Rescue & Relief Operation, 2007
  • Sumatra Barat Operation, 2007
  • Manggarai - NTT Operation, 2007
  • Pesisir Pantai Barat Sumatera Operation, 2007
  • Rescue Levina, 2007
  • Jawa Flood Rescue Operation, 2008
  • Rescue Situ Gintung Operation, 2009
  • Rescue Gempa Tasikmalaya Operation, 2009
Thank you for visiting our site, should you need any information please contact us.

Global Rescue Network Pada Bencana Banjir Januari 2013

January 28, 2013 Leave a comment

Global Rescue Network Pada Bencana Banjir Januari 2013

PBaca Juga Artikel Tentang Kami, pada bencana banjir Jakarta 2013.

Terima Kasih.:)

Advertisements

Program Pengelolaan Tanaman Cabai untuk Kelompok Usaha Tani di Cepogo

February 7, 2011 Leave a comment


Erupsi Merapi, November 2010

Masih teringat jelas beberapa bulan lalu ketika Gunung Merapi memuntahkan awan panas yang luar biasa besar sehingga mengharuskan masyarakat dilerengnya yang berjarak sampai radius 20 km harus dievakuasi ketempat yang lebih aman. Dalam kejadian ini juga banyak korban jiwa yang melayang karena terjangan awan panas tersebut. Pada waktu itu ratusan ribu warga harus meninggalkan harta benda dan hewan ternaknya sampai batas waktu yang telah ditentukan.Global Rescue Network (GRN) turut membantu proses evakuasi warga dari sisi timur Merapi selama beberapa minggu sampai kondisinya lebih kondusif. Selain membantu evakuasi GRN juga mengadakan operasi medis dan pemberian bantuan logistik di titik-titik pengungsian. Sungguh miris melihat banyak sekali warga yang kehilangan rumah, harta benda, dan bahkan mata pencahariannya karena bencana Merapi tersebutDalam kesempatan kali ini GRN kembali mengunjungi warga sekitar lereng Merapi, tepatnya di Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali – Jawa Tengah untuk memberikan bantuan.Bantuan kali ini adalah pemberian paket bibit cabai yang nantinya akan digarap oleh Kelompok Usaha Tani. Untuk tahap awal GRN menyerahkan 40.000 batang bibit cabai beserta mulsa. MPK, Dolomit, pupuk kandang, fungisida dan insektisida.

Bantuan ini sendiri hasil dari kerjasama antara GRN dan Global Jaya International School – Bintaro. Dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2011, paket bantuan bibit cabai ini langsung diserahkan oleh Bapak Freddy A. Sutrisno selaku Chairman GRN kepada masing-masing perwakilan Kelompok Tani. Program ini sendiri dilaksanakan setelah mendapatkan hasil dari pendataan sebelumnya terhadap kebutuhan warga terutama perekonomian karena mata pencaharian mereka rata-rata adalah bertani.
Untuk sementara 40.000 paket bibit cabai ini dikelola oleh 20 Kelompok Usaha Tani, dimana setiap Kelompok mempunyai anggota sekitar 25 orang (500 petani). Diharapkan setelah panen pertama kemudian bibit-bibit cabai yang baru dikembangkan kembali oleh Kelompok Tani yang lain. Keuntungan yang didapatpun dapat dikelola kembali oleh para petani sehingga menjadi lebih berkembang dan mampu memperbaiki roda perekonomian para petani yang sebelumnya sempat hilang.


Paket bibit cabai yang siap diserahkan

Ini merupakan pilot project kami (GRN) dalam keseriusan membantu pemulihan perekonomian masyarakat sekitar lereng Merapi pasca erupsi. Kami berharap dapat mengembangkan program ini secara berkala dengan target dapat membatu pemulihan  5.000 petani dengan bantuan hingga  400.000 batang bibit cabai atau tanaman lainnya serta alat-alat pertanian lainnya.

Categories: Merapi

Melawan Mongso, Mitos Petani Lereng Merapi

February 7, 2011 Leave a comment


Bapak Yatno – 60 tahun. Sedang berada di kebunnyakan mengarah ke desa dan kebunnya. Sebelum mengungsi ke gedung Gelanggang Olahraga Boyolali,

Saat diamati dari kejauhan, sosok yang nampak rapuh itu, hanya diam saja. Dia jongkok diantara gundukan tanah yang membentuk guludan dan parit-parit. Asap rokok yang dihembuskannya keudara menandakan bahwa, Yatno, nama pak tua itu, sedang beristrahat.

Sejak pagi dia mencangkul tanah di lereng perbukitan desa Kadipiro kecamatan Cepogo Jawa Tengah. Hawa sejuk pegunungan seakan menjadi tenaga tambahan baginya yang sudah berumur 65 tahun. Tanah yang menurun  ditanaminya sayur sayuran seperti kol, dan daun bawang. Ladang itu hanya berjarak tiga kilo meter dari gunung Merapi.

Ketika terjadi bencana Merapi, Yatno dan keluarganya yaitu istri dan dua anak perempuannya diharuskan mengungsi. Semula Yatno bersikeras tetap bertahan dirumahnya karena tanaman sayur yang  digarapnya  hampir panen. Selain itu, Yatno yakin bahwa hembusan angin  selalu kearah Selatan. Dengan begitu, menurut Yatno, debu  Merapi tidak akan mengarah ke desa dan kebunnya. Sebelum mengungsi ke gedung Gelanggang Olahraga Boyolali, Yatno sempat kucing kucingan dengan aparat keamanan. Mereka mendapat tugas  mengevakuasi penduduk sekitar gunung Merapi. Namun mengingat anak dan istrinya sudah mengungsi, maka tidak ada pilihan lain baginya selain ikut mengungsi.

Di pengungsian, tiap hari pikirannya selalu tertuju kepada kebunnya dilereng bukit. Hari hari di pengungsian diisinya dengan berdiskusi dengan pengungsi lainnya. Saling bertukar pengalaman, baik soal bercocok tanam maupun saat gunung Merapi meletus. Yatno dan keluarganya hanya bertahan dua minggu dipengungsian, selepas itu dia memberanikan diri kembali ke desanya. Ternyata kebun yang ditanaminya berbagai sayuran, sudah porak poranda berselimut debu. Yatno bingung bagaimana membayar bibit, pupuk dan obat anti hama yang dulu dipakai menanam sayur sayuran yang kini sudah hancur hancuran. Dia berharap bisa mendapat keringanan dari koperasi supaya hutangnya dapat dicicil. Yatno meragukan keberhasilan tanamannya pasca bencana Merapi ini.Sikap pesimis itu bagi Yatno bukan tanpa alasan. Dia mulai menanami ladangnya tepat pada bulan Januari. Bulan Januari bagi penduduk sekitar lereng Merapi adalah bulan mongso, artinya bulan pemangsa. Masyarakat lereng Merapi sejak dulu sudah berpantang mulai menanam di bulan Januari. Kalau pantangan itu diabaikan  mereka percaya bahwa  apa saja yang mereka tanam tidak akan menghasilkan panen yang bagus. Tanaman mereka akan dimongso (dimakan) oleh berbagai pengganggu, baik yang kasat mata seperti hama maupun yang tidak terlihat seperti roh jahat. Pertanda akan ada gangguan mongso itu menurut Yatno sudah nampak. Sejak dia mulai membersihkan lahan yang akan ditanaminya ada saja hambatannya. Batang batang pohon tomat yang rusak karena debu Merapi jadi keras membatu, sulit dimusnahkan dengan cara dibakar. Debu yang menyelimuti batang dan daunnya  mengeras seperti terbuat dari batu, kering keras dan menghitam.

Isyarat lain adalah patahnya tangkai cangkul yang dipergunakannya ketika mengolah tanah. Saat  akan menyemai bibit Kol dan bibit Daun Bawang hujan turun terus menerus. Padahal para petani mengerti bahwa bibit kol dan daun bawang tidak boleh banyak air. Belum lagi rubuhnya pondok tempatnya berteduh dari hujan, pondok itu rubuh begitu saja tanpa sebab.

Pada situasi itulah, Yatno dan kelompok taninya mendapat undangan untuk rapat bersama Global Rescue Network (GRN). Dalam rapat itu, kelompok tani se-kecamatan Cepogo mendapat tawaran paket bertanam cabai kriting. Tawaran dalam bentuk paket yang terdiri dari bibit cabai, pupuk dan obat anti hama ini, tentu sangat dinantikan oleh petani. Dengan adanya paket bibit cabai ini timbul lagi harapan petani untuk menggarap ladangnya.


Bpk. Yatno (paling kiri) bersama dengan GRN dan perwakilan KUT lainnya sedang melaksanakan acara serah terima paket bibit cabai

Program yang diprakarsai oleh GRN ini seolah merupakan  anugerah bagi Yatno dan kelompoknya. Ada 40.000 bibit cabai yang di berikan untuk 20 Kelompok Usaha Tani (KUT). KUT Ngudi Rahayu yang merupakan kelompok Yatno mendapatkan 2.000 bibit cabai, pupuk serta obat obatan akan. Setelah dihitung, tanaman ini memerlukan tanah sekiranya seribu meter persegi. Ketika panen tiba, tanaman cabai ini  akan menghasilkan keuntungan berlipat sampai habis masa panen tiga bulan kedepan. Tentu saja jika tidak ada hambatan yang berarti bagi pertumbuhannya. Demikian prediksi Agus Sigid STp salah seorang staf Dinas Pertanian Kab. Boyolali.  Apa lagi untuk menghadapi mongso, tenaga penyuluhan pertanian dari Universitas Gajah Mada Yogjakarta akan mendampingi para petani.

Bukan hanya mongso yang menjadi mitos bagi petani lereng Merapi. Masih ada beberapa larangan lagi yang menjadi pantangan mereka ketika mengerjakan ladangnya. Penyuluh pertanian menerangkan pada semua kelompok tani di sekitar kecamatan Selo dan kecamatan Cepogo, mongso itu hanya kiasan. Hanya mitos berupa cerita dari mulut ke mulut yang tidak berdasar. Bulan Januari adalah puncak musim penghujan yang debit airnya mampu menggerus tanah curam. Jika guludan yang dibuat tanpa sanering yang baik, tentu digilas air hujan. Lain dari itu, bulan Januari adalah siklus berkembang biaknya beberapa jenis hama tanaman. Kesemua gangguan bagi petani di lereng Merapi itu dijelaskan secara rinci disertai beberapa solusi. Untuk mengatasi derasnya air, maka guludan harus dibuat menurun.

Beberapa jenis hama daun, tidak akan mendekat jika dikebun itu ada pohon tembakau, walaupun hanya beberapa batang saja. Masih ada beberapa cara lagi untuk mencegah datangnya mongso kedalam kebun.
Dengan bahasa daerah yang kental, Yatno menyatakan akan melawan mongso dimusim tanam ini. Tentu saja perlawanannya terhadap mongso  kali ini berdasarkan arahan  dari penyuluh pertanian. Bukan dari mbah Sarmo dukun kampung yang selama ini menjadi tempatnya meminta petunjuk. Dia berjanji tidak akan  percaya lagi dengan berbagai penerawangan mbah Sarmo. Penjelasan dari penyuluh pertanian sudah jelas dan gamblang. Nampaknya, Yatno sudah meluruskan  arah jalan hidupnya kedepan. Ya,  memang begitu seharusnya!

Categories: Merapi

Perjuangan Melawan Ketidapastian Hidup

January 18, 2011 Leave a comment

Bu Merlin, sebut saja dia seperti itu. Seorang Ibu dari Desa Malakopak Dusun Baleraksok Pagai Selatan yang bernama lengkap Merliana ini  menceritakan kisahnya tentang kejadian Tsunami yang melanda dan mengakibatkan ketidakpastian hidupnya selama berada di tempat “aman”.

Sehari setelah Tsunami melanda Mentawai yang terlihat hanyalah kehancuran dimana-mana. Banyak korban meninggal dan luka di Pagai Selatan, salah satunya adalah Bu Merlin. Wanita berusia 37 tahun ini menjadi salah satu korban keganasan Tsunami yang melanda di desanya. Kakinya patah karena tertimpa reruntuhan rumahnya, sementara keluarganya yang lain selamat.

Sehari setelah kejadian, Bu Merlin pun ditolong oleh salah satu Organisasi Kemanusiaan yang bergerak cepat masuk ke daerah Pagai Selatan. Bu Merlin beserta beberapa korban luka lain yang masih selamat kemudian dievakuasi ke Puskesmas Kecamatan Sikakap di Pagai Utara.

Pada tanggal 5 Nopember 2010 3 orang korban tsunami yang mengalami luka berat di evakuasi ke Padang dengan menggunakan helicopter (salah satunya adalah bu Merlin). Sesampainya di salah satu Rumah Sakit besar di Padang Bu Merlin beserta korban yang lain langsung dibawa ke ruang perawatan khusus bagi korban Tsunami Mentawai.
Hasil rontgen awal menunjukkan bahwa tulang paha Bu Merlin patah dan harus segera di operasi. Pada tanggal 8 Nopember 2010 operasi kemudian dilakukan dan hasilnya kaki yang patahpun di pasang alat bantu berupa pen untuk menjaga supaya tulang tidak bergeser.

Hampir 3 minggu Bu Merlin berada di Rumah Sakit tersebut dengan di temani suaminya yang bernama J. Sinaga (44 tahun). Tapi selama itu pula tak ada perawatan lebih lanjut tentang kondisi bu Merlin. Tiap malam Bu Merlin teriak menahan sakit akibat efek samping dari hasil operasi tulangnya. Yang menyedihkan lagi tak ada satu Dokter atau bahkan perawatpun yang datang untuk sekedar melihat perkembangan kondisi bu Merlin.

Ini tidak terjadi pada Bu Merlin saja. Teman satu ruangan Bu Merlin bahkan sampai meninggal dunia di tempat, salah satunya akibat terabaikan di rumah sakit. Dan juga suami Bu Merlin yang menjaga tidak dipedulikan masalah makan dan kesehatannya, padahal mereka adalah korban Tsunami dan tidak memiliki apa-apa lagi.  Atas dasar tersebut dan juga trauma yang mendalam akhirnya bu Merlin dengan diwakilkan suaminya bersikeras untuk minta dipulangkan.
Rumah Bu Merlin berada di Km. 37 Pagai selatan. Tak ada rumah sakit disana. Perjalanan kesanapun membutuhkan waktu yang sangat lama dan sulit. Selain harus menyebrangi selat, perjalan darat juga harus menggunakan truk atau kendaraan garden ganda karena kondisi jalan yang kadang rusak parah serta berlumpur.  Oleh karenanya Bu Merlin tidak diijinkan pulang sampai kerumahnya, tetapi dia diijinkan kembali ke Sikakap Kepulauan Mentawai.

Setelah sampai di Mentawai Bu Merlin tinggal di GKPM ( Gereja Kristen Pagai Mentawai ) bersama suami dan anaknya. Selain Bu Merlin juga ada 2 orang korban luka yang sempat di evakuasi ke Padang kini berada di GKPM. Kondisi yang dialami Bu Merlin juga tidak jauh beda ketika dia berada di Padang. Setiap malam Bu Merlin berteriak menahan sakit di luka bekas operasinya.

PENGHARGAAN TERBESAR

Tanggal 25 Desember 2010 Pukul 20:00 GRN dan berbagai organisasi lainnya yang menamakan diri Tim Relawan Satu Rasa tiba di Sikakap untuk melanjutkan misi kemanusiaan. Kami kemudian kedatangan tamu dari NGO Italia dan menginformasikan temuannya. Rekan2 dari NGO Italia bercerita kasus yang dialami Bu Merlin dan kondisinya saat ini, karena NGO tersebut tidak bergerak dalam penanganan kesehatan maka mereka berkoordinasi dengan kami.
Atas informasi tersebut kami membagi tugas. Beberapa Dokter ditugaskan untuk mendatangi Gereja tempat Bu Merlin berada sementara Tim yang lain tetap menjalankan tugas sesuai dengan rencana. Setelah di diagnosa oleh Dokter William yang berasal dari Maranatha Social Service and Crisis Centre (MSSCC) Bandung menjelaskan bahwa Bu Merlin harus dirujuk ke Rumah Sakit atau ke Dokter Spesialis tulang (Ortopedi). Setelah mendapat penjelasan kami pun menawarkan untuk membawa Bu Merlin ke Padang untuk segera diambil tindakan medis. Tetapi suami bu Merlin menolak atas dasar trauma karena di telantarkan oleh Rumah sakit di sana.

Beberapa kali kami membujuk suami dari Bu Merlin untuk diijinkan membawa Bu merlin ke Padang karena jika dibiarkan kondisi Bu Merlin akan semakin parah. Kami menjelaskan bahwa di Padang Bu Merlin akan dirujuk ke Rumah sakit spesialis tulang, bukan Rumah Sakit Umum. Dan beberapa pihak telah menyatakan jaminan terhadap perawatan Bu Merlin selama di Padang.

Setelah melakukan perdebatan yang panjang dan kami meyakinkan bahwa tidak ada maksud lain sama sekali selain kemanusiaan, pada tanggal 29 Desember 2010 akhirnya suami Bu Merlin pun mengijinkan kami membawa Bu Merlin ke Padang bersamaan pula dengan Tim Satu Rasa pulang ke Padang.

Sampai di Padang Bu Merlin langsung mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Khusus Bedah Tulang Ropanasuri.  Dokter spesialis tulang menjelaskan menurut hasil rontgen terlihat bahwa operasi Bu Merlin yang pertama ada kesalahan sehingga berakibat daging disekitar patahan tulang tersebut terjepit. Itu yang membuat Bu Merlin berteriak kesakitan setiap malam. Berdasarkan diskusi antara Dokter William dan Dokter Spesialis Ortopedi di RS tersebut, Bu Merlin harus di operasi ulang.

Tanggal 2 Januari 2011 kami kembali menanyakan perkembangan terakhir bu Merlin melalui Bapak Ade Rahardian selaku Koordinator dari Posko Satu Rasa. Bapak Ade menjelaskan sekarang kondisi Bu Merlin sudah lebih baik. Hari ini dia sudah dilatih untuk menggerakkan kakinya. Suami Bu Merlin pun sudah dapat tersenyum lebar.
Sungguh kabar yang sangat menggembirakan mendengar kondisi Bu Merlin sudah lebih baik. Tak dapat kami bayangkan jika kami tidak berhasil membujuk suaminya untuk segera dirujuk ke Rumah Sakit. Mungkin sekarang kondisinya akan bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat ini.

Walaupun bukan trauma karena Tsunami, setidaknya kami berhasil membuat Bu Merlin dan sang suami tersenyum dan melupakan trauma atas pelayanan kesehatan yang sempat menghantui mereka.Terima Kasih untuk Bu Merlin dan keluarga yang sudah mempercayakan kami untuk membantu sesama dengan tulus dan ikhlas. Ini adalah penghargaan terbesar untuk kami. Semoga lekas sembuh dan dapat kembali beraktifitas.

Jakarta 12 Januari 2011
GLOBAL RESCUE NETWORKAtek

Sumber :
Lody Korua/GRN (08161993244)
Sofyan/GRN (085882589564 )

Categories: Mentawai

Andipal Bocah Ajaib dari Sabue Gunggung

January 17, 2011 Leave a comment

Sepertinya tak berlebihan jika menyebut Andipal sebagai anak ajaib. Seorang bocah berusia 6 tahun ini menjadi satu-satunya yang selamat terhadap keganasan Tsunami yang menerjang kampungnya di Sabue Gunggung. Setelah mendengarkan cerita dari berbagai sumber, akhirnya tulisan ini dapat terangkai menjadi sebuah cerita.
Andipal adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara pasangan Frans (36 tahun) dan Nurtalina (36 tahun). Kakaknya bernama Andi Lita (11 tahun), Adiknya bernama Tikal (3tahun) dan Nikma (2 tahun). Mereka tinggal di Dusun Sabue Gunggung bersama 44 KK lainnya. Dalam kesehariaannya Andipal adalah anak yang ceria dan sangat dekat dengan ayahnya. Karena masih kecil dan cenderung takut Andipal sering sekali meminta tidur dalam pelukan ayahnya, apalagi ketika cuaca sedang buruk.

Pada hari itu ketika gempa bumi dan Tsunami melanda, Andipal sedang berada dalam pelukan ayahnya karena sebelumnya hujan juga melanda seharian. Begitu cepat bencana itu datang. Tsunami telah menghancurkan semua yang dilewatinya. Dusun Sabue Gunggung seolah lenyap. 31 bangunan dan 1 gereja yang ada semua hancur dan rata dengan tanah, termasuk 44 KK yang ada di dalamnya. 121 jiwa meninggal dunia, sungguh pemandangan yang sangat memilukan.

Adolf Bastian dan Juniawan, 2 orang pemuda dari Desa lain yang juga adalah kerabat dekat Andipal datang ke Desa Sabue Gunggung pada hari kedua setelah Tsunami menerjang untuk mencari sanak keluarga mereka yang masih hidup. Sambil mencari keluarganya, Adolf dan Juniawan membantu warga lain mengumpulkan jenazah-jenazah yang ditemukan. Atas kesepakatan dari Kepala Dusun Baru-baru bernama Nahor (62 tahun) dan Kepala Desa Batu Monga yang bernama Jen Joseph (48 tahun) semua jenazah yang sudah di temukan kemudian dikuburkan secara massal.
Karena masih penasaran belum menemukan keluarganya baik hidup maupun meninggal, Adolf dan Juniawan menyusuri pantai dan mencari di setiap puing-puing bangunan atau batang pohon yang ditemuinya, tetapi terap tak ada hasil yang didapat oleh kedua pemuda ini.

Sampai pada akhirnya di hari ke 3 pancarian mereka (Adolf dan Juniawan) melihat seorang anak yang berjalan dari kejauhan di pinggir pantai dengan jalan terpincang-pincang. Setelah mereka berjalan semakin dekat baru terlihat jelas bahwa itu adalah Andipal yang berada tak jauh dari pohon kelapa kembar (disebut pohon kelapa kembar karena tumbuh berdekatan dan berukuran sama besar yang juga sekaligus menjadi tempat favorit Andipal bermain bersama teman-temannya).

Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Andipal yang hanya memakai celana pendek dengan badan penuh dengan lumpur yang sudah mengering. Ditangan kanannya terlihat Andipal sedang memegang 1 buah durian dan ditangan kirinya memegang papan selancar (surfing). Betapa bahagianya mereka dapat menemukan salah seorang sanak keluarganya yang masih hidup. Andipal langsung di bawa ke Puskesmas terdekat untuk menjalani perawatan kesehatan. Ternyata tidak ada luka serius yang menimpa Andipal, kecuali haus dan lapar.

BERKAT PAPAN SELANCAR DAN SEBUAH DURIAN

Andipal kemudian dibawa kerumah kakeknya yang tinggal di Dusun Sikautek yang masuk dalam wilayah Taikako Kecamatan Sikakap Pagai Utara. Setelah berhasil diajak berbicara oleh kakeknya setahap demi setahap terungkaplah fakta selamatnya Andipal dari Tsunami yang membinasakan seluruh warga Sabue Gunggung.

Menurut cerita Andipal pada waktu Tsunami menerjang dia terbawa arus sampai ke tengah laut, secara tidak sengaja dia menggapai dan memeluk sepotong papan yang ternyata adalah papan selancar. Setelah terapung-apung selama 12 jam Andipal melihat sebuah durian yang mengambang didekatnya, kemudian langsung diambilnya durian tersebut dengan harapan dapat membuka durian itu untuk dimakan.Upaya mencari sesuatu yang dapat dijadikan alat untuk membuka durian membuatnya lupa akan makan dan minum. Hujan deras dan panas terik selama 2 hari 2 malam dia alami sambil terkatung-katung di laut.

Beruntung pada hari ke tiga setelah Tsunami atau tepatnya pada hari Rabu, 27 Oktober 2010 ombak membawanya ke pantai. Dengan dibantu ombak diapun mengayuh papan selancarnya menuju ke pantai tepatnya mendekati pohon kelapa kembar. Tujuannya karena yang dia ingat betul itu adalah tempat bermainnya.
Selain pohon kelapa kembar tersebut memang tak ada lagi bangunan utuh yang tersisa, semua terlihat hancur berantakan. Sebelum ditemukan oleh Adolf dan Juniawan, Andipal hanya seorang diri dengan ditemani oleh papan selancar dan durian yang terus digenggamnya.

Sebuah trauma yang sangat dalam telah dialami anak ini. Kejadian ini tak akan membuatnya lupa, apalagi dia telah kehilangan orangtua dan saudaranya. Kamipun mendapatkan kesempatan untuk dapat berkunjung dan berbicara kepadanya. Tetapi sulit sekali rasanya mencari perhatiannya. Wajahnya yang terlihat dingin menggambarkan rasa trauma mendalam menyelimuti dirinya.

Untuk sementara Andipal dirawat oleh Nukadeus (kakeknya) yang tinggal dirumah kecil berukuran 4×4 meter tanpa dinding dan hanya beratapkan terpal sumbangan dari relawan.Setiap malam dia berteriak memanggil-manggil keluarganya. Kini kebiasaan itu sedikit berkurang karena Andipal telah mempunyai teman bermain. Setiap pagi dan sore bermain bola di halaman rumah kakeknya yang berpenghuni 18 jiwa.

Mata pencaharian dari Nukadeus adalah bertani. Dia menanam talas, pisang, dan ketela pohon di tanahnya yang sempit dengan pengairan tergantung tadah hujan. 18 jiwa menggantungkan hidupnya dari hasil bertani ini. Tak pernah sepotong kue pun mereka dapatkan padahal mereka tinggal berdekatan dengan kediaman rumah Bupati Mentawai. (seperti yang diceritakan Nukadeus dan Juniawan).

Berdasarkan cerita ini nampaknya penderitaan Andipal tidak berhenti sampai disini. Berapa lama sang kakek sanggup menghidupi 18 jiwa termasuk Andipal? Bagaimana masa depan Andipal nantinya, apakah dia harus rela menghilangkan masa kanak-kanaknya untuk bekerja keras menyambung hidup? Yang pasti mereka sangat butuh bantuan nyata dari kita. Dan mungkin masih banyak Andipal-andipal lain disana yang tidak terangkat kisahnya.

Jakarta 12 Januari 2011
GLOBAL RESCUE NETWORK
Atek

Sumber :
Lody Korua/GRN (08161993244)
Sofyan/GRN (085882589564)

Categories: Uncategorized

GRN Rayakan Natal Bersama Korban Tsunami Mentawai

January 17, 2011 Leave a comment


Image by : bali-news-views.blogspot.com

Gempa bumi disertai Tsunami yang mengguncang kepulauan Mentawai pada Tanggal 25 Oktober 2010 malam masih menyisakan duka mendalam untuk Indonesia. Menurut informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat korban meninggal mencapai 450 orang dan pengungsi mencapai 15.353 jiwa pada masa tanggap darurat.

Pada tahap tersebut Global Rescue Network (GRN) beserta beberapa Organisasi Kemanusiaan lainnya yang tergabung kedalam Posko Satu Rasa melakukan operasi rescue di daerah Pagai Selatan selama kurang lebih 2 minggu. Kegiatan yang dilakukan adalah operasi medis dan distribusi logistik pangan dan non pangan.

Setelah berada di Jakarta terbesit ide dari Lody Korua (Koordinator Operasi Tsunami Mentawai/Wakil Ketua GRN ) untuk kembali ke Mentawai merayakan Natal bersama masyarakat korban Tsunami. Beberapa Organisasi Kemanusiaan yang pernah tergabung dalam Posko Satu Rasa pun kembali diajak bekerjasama. Ide ini pun mendapat banyak dukungan. Beberapa Organisasi menyatakan bergabung, diantaranya Komunitas Pecinta Alam AGRIKA, Maranatha Social Service and Crisis Centre (MSSCC) Bandung, Sekolah Alam Minangkabau Sumatera Barat, Posko Merah Putih Jakarta, SURFAID International Sumatera Barat, dan ORARI. Kegiatan ini juga didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat. Bahkan BPBD memberikan dukungan kendaraan operasional berupa motor trail untuk dipergunakan selama kegiatan. Kegiatan ini sendiri di gagas berdasarkan keinginan untuk berbagi kebahagiaan di hari Natal bersama korban bencana Tsunami di Mentawai.Bentuknya kebahagiaan itu diaplikasikan menjadi beberapa kegiatan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam rapat koordinasi diputuskan yang akan menjadi Koordinator Lapangan adalah Ade Edward dari BPBD Sumbar (Ketua BPBD Sumbar). Kegiatan yang akan dilakukan adalah pelayanan kesehatan berupa pengobatan gratis, pembagian paket bantuan pangan, dan pelayanan trauma/trauma healing korban Tsunami. Kegiatan ini sendiri rencananya akan berlangsung selama kurang lebih 1 minggu.

BERBAGI KEBAHAGIAAN NATAL

Pada tanggal 22 Desember 2010 Tim Relawan Satu Rasa bergerak menuju Mentawai. Tiba di Mentawai, tepatnya di Pelabuhan Sikakap  Pagai Utara Tim Satu Rasa langsung menuju ke Posko SURFAID International untuk loading barang sementara sambil melaporkan keberadaan GRN ke Posko Padang dan Jakarta sekaligus ijin penggunaan frekwensi emergensi ke ORARI.

Keesokan harinya (23 Desember 2010) Tim berangkat menuju ke Pagai Selatan untuk kemudian merapat ke Km. 32 yang direncanakan akan dijadikan Posko selama berada di Pagai Selatan. Selain motor trail, digunakan pula 2 unit kendaraan berupa truck charter untuk menunjang pergerakan Tim. Hari ini kegiatan di fokuskan untuk setup posko, jalur komunikasi,logistic, dan assessment.
Setelah mendapatkan data yang cukup, pada tanggal 24 Desember Tim mulai bergerak untuk memberikan pelayanan kesehatan, pemberian paket logistik serta pelayanan trauma di Desa Mounte Kecil. Kemudian ke Desa Sabiret keesokan harinya.


Dalam perayaan Natal tahun ini masyarakat Pagai Selatan merayakannya di Desa Bulasat yang terletak di Km. 37. Gereja yang dibangun darurat terbuat dari kayu dan beratapkan terpal. Dengan kondisi tempat yang bisa dibilang tak layak seperti ini tetapi tak mengurungkan niat masyarakat untuk tetap menghadiri perayaan Natal.

Selesai mengikuti acara Natal, Tim langsung berkemas dan kembali bergerak ke Dermaga Polaga Pagai Selatan untuk menunggu kapal yang akan menyeberang ke Pelabuhan Sikakap. Dalam skenario yang telah disepakati daerah operasi berikutnya adalah Pagai Utara.
26 Desember 2010. Waktu menunjukkan pukul 09:00 WIB. Setelah sarapan pagi Tim bergerak menuju Desa Takako Dusun Kaute untuk melakukan pelayanan kesehatan, pemberian paket logistik dan trauma healing. Di Desa tersebut ada beberapa Gereja dan rumah yang dikunjungi karena banyak masyarakat yang mengalami keluhan tentang kesehatan.
Kegiatan di Pagai Utara ini dilaksanakan sampai tanggal 29 Desember 2010.

Berikut data operasi pelayanan kesehatan :


GRN mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Principal, Teachers dan Parents Global Jaya School yang telah membimbing seluruh siswanya untuk memberikan dukungan material pada kegiatan ini.

Sumber : GRN/Sofyan
11 Januari 2011Atek

Categories: Mentawai

Operasi Mentawai & Merapi (II)

November 15, 2010 Leave a comment

Dua minggu lebih Tim Global Rescue Network melakukan operasi kemanusiaan di Mentawai dan Merapi. Tim evakuasi dari Global Rescue Network Sumatra Barat mulai melakukan evakuasi sejak 27 Oktober hingga 5 November di 8 desa di kepulauan Mentawai. Mereka pergi ke lokasi kampung-kampung pesisir dengan menggunakan perahu walau kerap harus terkendala karena cuaca buruk. Setelah mengevakuasi dan menguburkan korban di Desa Sabeu Gunggung, Pagai Utara pada tanggal 28 Oktober, esoknya tim menemukan desa Pasapuat, Saumanganyak dalam keadaan hancur dan belum didatangi tim penolong. Sebagaimana yang dilaporkan Kibe, koordinator Lapangan GRN Sumbar, kendala cuaca buruk yang sering menghambat dan membuat logistik menumpuk di pelabuhan.  Hal ini membuat tim menyiapkan tim darat dengan kendaraan 4X4.  Dengan fasilitas KRI, kendaraan 4×4 diberangkatkan dari Jakarta 29 Oktober, namun tidak dapat mendarat di Sikakap karena ombak terlalu tinggi.

Tim darat mengusulkan kepada BPBD Bapak Ade Edward untuk melakukan distribusi bantuan dalam rapat koordinasi di Padang dan Sdr Lody Korua diangkat menjadi koordinator distribusi darat dengan tugas mengkoordinir tim offroader lainnya dari Sumatra Barat. Banyak kendala non teknis yang dihadapi tim hingga baru dapat melaksanakan tugasnya mulai tanggal 11 November. Saat ini tim membantu distribusi logistik di daerah Bulasat, Pagai Selatan.  Distribusi logistik berjalan lancar karena terdapat jalan mulus yang membentang, namun sistem pembagian distribusi yang masih perlu dibenahi.

Sementara posko GRN di sekitar Merapi yang mulai aktif sejak 28 Oktober mengalami perpindahan sebanyak 3x dari Desa Ndeles, Klaten yang terletak dalam radius 4 km dari Merapi, kemudian berpindah ke desa Selo, Cepogo, Boyolali dan demi pertimbangan keamanan posko dipindahkan ke lokasi yang dianggap sangat aman yaitu di bandara lama Adi Sumarno. Tim medis GRN yang terdiri dari dokter dan paramedik dari Yarsi bahu membahu bersama tim medis dari Paiton dan Newmont di minggu pertama. Dengan bantuan ambulans dari LSM Diam, tim berkeliling mendatangi posko pengungsi dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis. Di minggu ke-2 tim medis diperkuat oleh rombongan dokter dan paramedis dari RS Boedi Kemoeliaan, Jakarta. Selain melakukan assessment dan bantuan medis, tim relawan yang terdiri dari berbagai organisasi kemahasiswaan ini juga mendistribusikan logistik yang disesuaikan dengan kebutuhan pengungsi.

Berbagai fase dialami oleh tim, sejak mulai Merapi dalam status WASPADA, saat warga bertahan sementara status sudah mulai menjadi AWAS, radius aman dari mulai 5, 10 hingga 20 km. Saat para pengungsi sudah berada di posisi aman yaitu lebih dari 20 km, berbagai issu menghantui mereka hingga sebagian panik dan mengungsi sampai ke Semarang atau ke kota lainnya yang jaraknya cukup jauh. Di sisi lain karena kepercayaannya ada pula beberapa warga masyarakat yang masih bertahan tinggal diantara abu yang beterbangan dan ‘wedus gembel’ yang mengintai setiap saat.

Berpindah-pindah tempat mengikuti jarak radius aman adalah sebuah proses yang dialami para pengungsi. Dan terkadang di tengah malam buta mereka harus segera meninggalkan tempat terkahirnya untuk menjauhi Merapi. Karenanya tikar, selimut, pakaian dalam, peralatan mandi, walau banyak disupply oleh berbagai institusi tetap saja ada kurangnya. Kalau saja bisa kita telusuri bekas tempat-tempat mengungsi yang ditinggalkan dengan tergesa, banyak selimut garis yang ditinggalkan kini tertutup abu. Jika saja ada upaya mencucinya, pasti tidak akan terjadi lonjakan harga barang bantuan seperti ini di kota besar seperti Jakarta karena kenaikan demand yang luar biasa.

Sebagian besar posko pengungsi menyediakan dapur umum bagi ‘warga’nya. Makanan yang paling umum disediakan adalah nasi bungkus dengan sedikit mi di pucuknya. Tambahan lauk berupa teri atau lainnya tentunya jadi barang mewah. Bisa dibayangkan berapa ton beras yang harus tersedia untuk mengcover konsumsi bagi hampir 400.000 pengungsi Merapi setiap harinya? Hingga kapan semua pihak yang membantu dapat bertahan? Dan jika semua telah pergi, siapa yang akan menanggung mereka?

Saat ini walau status Merapi tetap dalam kondisi AWAS, namun perubahan radius aman dari 20 km menjadi berbeda di tiap Kabupaten membuat banyak masyarakat yang telah berangsur kembali ke rumahnya. Saat ini untuk Kabupaten Boyolali menjadi 10 km, Magelang 15 km dan Sleman 20 km. Tim GRN membantu memperlancar jalur transportasi dengan membersihkan pohon-pohon kayu yang tumbang dan menutupi jalan. Inikah momentum yang merubah bencana menjadi berkah? Inikah saatnya menikmati lahan subur yang ditinggalkan abu vulkanik? Memanen pasir yang dibawa lahar dingin? Semoga!

Tak lupa disampaikan rasa terima kasih kepada mereka yang telah merelakan sebagian harta, tenaga, waktu dan pikirannya untuk mendukung Operasi Mentawai dan Merapi Global Rescue Network:

• Indomobil/Ford
• TNI Angkatan Laut/Kolinlamil
• Eiger
• Tim Rescue Paiton
• Tim Rescue Newmont
• Tim Medis Yarsi
• Tim Medis RS Boedi Kemoeliaan
• FK Unsoed
• Tim Fisioterapi Universitas Esa Unggul
• PT Pertiwi Agung
• Global Kalimantan Makmur
• Panasonic Gobel
• Keluarga besar Arus Liar
• PT Intisar
• PT Nasional Makmur Sejahtera
• PT Cartenz Indonesia
• BNPB
• Rudy Pasaribu
• Rosrita Tioniwa
• Sidarta Atman
• Maliana Malkan
• Kusworo
• Evayanthi
• Dina Erlangga
• Farida Alamsyah
• Laurike & Gustaf
• Rina Djohar  & Iwan Hignasto
• Orang tua murid Sekolah Global Jaya International School
• Orang tua murid Tarakanita 1 Barito
• Alumni SMPN 35 Jakarta
• IWAPI DPC Kota Bogor
• Kel Arisan Pramugari Pramugara Garuda angkatan 81-84
• Abiturient ’79 Harapan Medan
• Komunitas Gereja Philadelphia Cirebon
• Komunitas Action Figure Indonesia
• LSM DIAM
• Agrika
• Malimpa UMS
• Highlander HNC
• Dyah Fitria Indri
• Jack Suryo & keluarga
• Pradiono Suriadi & keluarga
• Florence
• Petrus Purwana & Patricia Marianne
• Pinkan Permata• Susi Meilina
• Tjandra Kirana
• Tejasari Asad
• Cinita Nestiti
• Nunik Maharani
• Dini Hapsari
• Yani Netty B
• Ferry Khusaeri L
• Nita Yosita Hawadi
• Anne Ida Puspawati Tjok
• Ane
• Mira Wanadar
• Farida
• Minon Al Mahsyur
• Maria Tjandra
• Anggata Sebastian
• Ivan Yacob
• Sinta Juwita
• Irwan S Lesmana
• Retno
• Sanborne Yoe
• Sofina Darusalam
• Defi Safiatri
• Srikandini
• Sinta Junita
• Doni Suyanto
• Ria Devi
• Soraya
• Hendrinanto
• Nuraida Hidayati
• Sofiah
• Iwang Gumiwang
• Pradiono S Suriadi
• Arieza Muliawarhana
• Indra Darusman
• E Myra Juliarti
• Sony
• Billy

Amalia Yunita
14 November 2010

Categories: Mentawai, Merapi