Archive

Archive for the ‘Wasior’ Category

Kabar dari Wasior V

October 29, 2010 Leave a comment

Sebagian besar korban banjir Wasior mengungsi ke Manokwari. Disana mereka ditempatkan di lapangan KODIM yang saat ini dihuni 1.178 pengungsi dan BLK yang dihuni 2.180 pengungsi, sementara diperkirakan sebanyak 1.571 orang tinggal di rumah sanak saudaranya di kota Manokwari. Baik di lapangan KODIM maupun BLK para pengungsi terurus dengan baik. Banyak relawan yang dengan sepenuh hati mengurus mereka. Makanan, logistik, sanitasi semua tercukupi hingga saat ini. Program pendidikan terutama bagi mereka yang akan mengikuti ujian sekolah akan segera dimulai dengan memasukan mereka ke sekolah-sekolah yang berada di Manokwari. Semua murud SD yang terdata juga telah mendapat seragam sekolah dalam jumlah yang cukup. Ada 236 guru yang tinggal di pengungsian. Tak banyak yang memilih tinggal di Wasior.


“Ibu kami hanya perlu uang saja, andaikan ada yang bagikan uang sedikit saja”, begitu celoteh Ita yang berasal dari Buton. Warga Sulawesi Selatan memang banyak mengungsi ke tempat ini. Mereka sebagian besar para pedagang yang menghidupi roda perekonomian dan perdagangan di Wasior. Pasar Sanduay yang baru diresmikan Juni 2010 hancur rata dengan tanah dan menelan banyak korban dan harta. Banyak diantara para korban di tempat ini yang bahkan menyimpan uang hingga ratusan juta rupiah yang turut hanyut terbawa air bah.

Kondisi yang berbeda dialami pengungsi yang memilih untuk tetap tinggal di Wasior. Tak banyak didatangani relawan dan organisasi yang membantu. Jangankan pakaian sekolah, logistikpun tak terbagi rata. Kelemahan assessment dan tidak adanya mapping titik pengungsian bisa jadi salah satu penyebabnya. Hingga masa tanggap darurat hampir berakhir tim GRN tak juga mendapatkan peta administratif Teluk Wondama. Gedung Pemerintah Daerah yang berdiri dengan megah tak terjamah banjir kehilangan karyawannya yang hampir semua mengungsi ke Manokwari. Akhirnya bermodalkan peta topografi serta GPS tim GRN melakukan mapping pada daerah-daerah pinggiran sambil mendistribusikan logistik dan keperluan pengungsi sesuai dengan kebutuhan masing-masing area.

Hingga lebih hari ke delapan belas setelah bencana datang jalanan masih dipenuhi lumpur dan bau busuk. Beberapa diantara puskesmas dan rumah sakit yang penuh lumpur mulai dibersihkan. Banyak peralatan medis yang tidak dapat diselamatkan lagi. Saat running teks di salah satu station TV menyatakan cuaca buruk melanda Wasior kami kepanasan karena matahari Papua begitu terik menyengat. Lumpur berubah menjadi debu yang beterbangan kemana-mana. Saat diberitakan adanya banjir bandang susulan banyak masyarakat panik dan ingin secepatnya melaut ke Manokwari. Malam itu memang hujan turun sangat lebat.. Bersama masyarakat kami berjaga semalaman dengan seluruh perlengkapan dan pelampung di tangan. Setiap ada bunyi gemuruh para pemuda naik mencari asal suara. Alur-alur sungai baru yang tak beraturan juga terus dijaga agar jangan sampai menimbulkan sumbatan.

Kesibukan mulai kembali normal dengan mulai munculnya pedagang yang berjualan di pasar yang bentuknya masih tak beraturan. Bahkan mini market pun buka di tengah jalanan yang penuh lumpur yang tengah dibersihkan alat berat. Dengan mulai dibukanya kios-kios rodak perekonomian muali berputar lagi. Untuk para organisasi yang memberikan bantuan pangan seperti GRN, supply bahan pangan menjadi tak serumit ketika masih harus didatangkan dari Manokwari.Teluk Wondama ternyata menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Ikan yang melimpah laut hijau bergradasi biru. Laut yang menjadi coklat saat bencana datang mulai kembali menampakkan keindahannya. Jika kita mendengar cerita masyarakat, hingga tahun 70an sisi pantai yang tertutup hutan dipenuhi burung kakak tua putih, sehingga jika kita datang dari arah pelabuhan, hutan hijau tampak bernuansa putih. Sayangnya burung-burung itu tak bersisa sekarang. Ditembaki untuk dimakan atau dijual hingga tak ada lagi. Bukan juga musnah akibat bencana yang datang.

Amalia Yunita & Atek 23 Oktober 2010

Categories: Wasior

Kabar dari Wasior IV

October 29, 2010 Leave a comment

Selain merambah ke titik paling Utara di Teluk Wondama yang terkena bencana, melakukan assessment dan memberikan bantuan logistik kepada masyarakat di kampung Dotir yang terpaksa membuat tempat tinggal sementara di tengah hutan, tim GRN mencoba menjelajahi titik di area Selatan Teluk Wondama. Tim bertemu dengan Paul Sambery, seorang pegawai distrik Wondoboi yang baru saja mendapat ancaman warga akan masalah klasik yang sering ditemui di tempat bencana, persoalan tidak sampainya bantuan logistik.

Bersama beberapa pegawai dan pemuda kampung Wondiboi, tim GRN melakukan assessment dan menelusuri titik-titik pengungsian masyarakat Wondiboi berjumlah 254 KK yang konon mengungsi di 18 titik. Perjalanan penuh tantangan ditempuh melewati berbagai rintangan alam dilewati hingga tim dapat mencapai titik-titik pengungsian yang belum terjangkau di desa Tandia. Betapa trenyuh nya menemukan sekelompok nelayan yang lari ke gunung karena trauma.

Mereka membangun ‘rumah darurat’ dari kayu-kayu yang ditemui di hutan. Beberapa diantara kamp yang dibangun di tengah hutan tersebut dihuni beramai-ramai dengan banyak bayi dan balita hanya ditutupi dinding kulit kayu dan beratapkan terpal yang tak cukup untuk menutupi samping kiri kanan saung. Sungguh ironis jika kita lihat tenda oranye dijejer badan nasional yang bertanggung jawab menanggulangi bencana di sepanjang jalan di kota Wasior atau dipasang hanya digunakan untuk parkir motor di tengah rumah-rumah yang tidak terkena bencana.

Masyarakat Tandia menjadi tak ramah karena didera trauma yang dalam harus berlari dikejar banjir yang hanya 30 menit datang dan pergi. Menghadapi masyarakat yang bermuka tegang tanpa senyum tim GRN merasa ciut teringat masalah politik dan keamanan yang sering mencuat di Papua. Tim terus mendata kamp-kamp yang tersembunyi di hutan hingga ujung desa Sendrawoi dimana ditemukan desa yang telah tersapu banjir dan ditinggalkan oleh penduduknya. Dari 2 orang yang tinggal disana didapat informasi bahwa seluruh penduduk desa telah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.Ingin rasanya meneruskan kembali mencari kamp-kamp mereka di atas gunung, namun jalan telah terbelah dua. Lebih parah dari jalan yang tercabik-cabik dan jalan yang menjadi sungai yang sudah kami lalui. Dengan pertimbangan keamanan tim kembali dengan penuh perjuangan karena harus melewati medan yang penuh lumpur.

Tim GRN kembali memberdayakan masyarakat korban bencana. Setelah melakukan pendataan, sekelompok ibu-ibu dari kampung Wondiboi membantu mengepak 250 paket sembako bagi masyarakat di distriknya. Banyak cerita yang mereka hadirkan. Banjir paling dulu tiba di desa mereka yaitu jam 6 pagi, sedangkan di Wasior kota banjir baru datang 3 jam kemudian. Salah satu keluarga mencoba berlari, bapak, ibu dan anaknya yang masih remaja. Sang ayah selamat karena tersangkut di pohon. Anaknya pun selamat karena tertambat batang pohon yang melintang. Namun baru ditemukan sore hari setelah seharian berteriak-teriak minta tolong. Lumpur menutupi tubuhnya hingga dada sehingga tak bisa bergerak dan keluar. Malangnya sang ibu meninggal dunia, ditemukan 2 hari setelah bencana setelah seekor anjing menunjukkannya. Anehnya anjing tersebut ngeloyor pergi setelah memberitahukan jenazahnya.

Esoknya semua keluarga pengungsi dari distrik Wondiboi yang telah terdata mendapat paket sembako termasuk mereka yang tinggal di gunung. Masyarakat dan pengurus distrik merasa puas dan senang. Untuk tim GRN kebahagiaan mereka adalah sebuah apresiasi.

Global Rescue Network Amalia Yunita & Atek

Categories: Wasior

Kabar dari Wasior III

October 27, 2010 Leave a comment

Dua minggu berlalu sudah sejak bencana banjir bandang menggenangi Teluk Wondama yang menyimpan berjuta keindahan alam. Ribuan rumah tersapu rata oleh air aliran deras yang membawa serta pohon-pohon sepanjang lebih dari 20 meter serta batu-batu besar meninggalkan trauma yang hebat bagi masyarakat yang tertimpa musibah. Banyak diantara masyarakat pendatang yang lantas mengungsi ke Manokwari, namun sebagian besar masyarakat asli Wasior memilih untuk tinggal di kampungnya dengan memendam segala kecemasan. “Kami akan tetap tinggal disini karena ini adalah tempat nenek moyang kami, cerita Ibu Ariks dari Kampung Miei. Mereka yang masih memiliki rumah mulai membersihkan rumahnya. Banjir membawa serta lumpur dan pasir hingga satu meter di dalam rumah. Jika hujan turun masyarakat mulai naik ke daratan yang lebih tinggi yang diperuntukkan untuk mengungsi. Pemberitaan berulang tentang adanya cuaca buruk di Wasior membuat masyarakat panik dan terus dilanda kecemasan.

Tim Global Rescue Network (GRN) menjalankan pemberdayaan masyarakat lokal dalam mendistribusikan bantuan. Sekelompok ibu-ibu dari Kampung Miei direkrut untuk menjadi relawan, mereka mambantu dalam pengepakan sembako serta membantu proses distribusi langsung kepada 109 keluarga yang telah didata sebelumnya. Dengan adanya kegiatan mereka dapat sejenak melupakan dukanya. Dalam mendistribusikan bantuan, penerima manfaat didata dahulu, diperiksa sendiri oleh masyarakat dan diberikan secara langsung. Dengan cara seperti ini dapat dihindari konflik karena bantuan yang tidak merata serta penerima manfaat yang tidak sesuai dengan kriteria. Hal ini adalah berdasarkan pengalaman dari hampir seluruh bencana di Indonesia terjadi penumpukan dan kesia-siaan bantuan.

Saat ini tidak banyak lagi tim dan organisasi yang masih bertahan di Wasior. Sejak awal tim medis merupakan mayoritas dari relawan yang datang. Angkatan Laut mendirikan rumah sakit lapangan di pusat kota serta beberapa NGO dan institusi menangani pengobatan massal di kamp pengungsi. Tim GRN bertemu dengan bidan Kubiari yang bersama 2 orang yang baru lulus akademi perawat menjaga pos kesehatan di Wondiboi, distrik di Selatan Wasior dimana belum ada listrik. Puskesmas tergenang lumpur hingga selutut sehingga layanan kesehatan bagi 189 KK di area tersebut ditangani di pos kesehatan sementara. Lima hari setelah bencana seorang ibu melahirkan dan bayi nya tak tertolong. Tak ada kendaraan untuk membawa ibu dan anaknya dalam keadaan darurat. Sungguh ironis jika mengingat begitu banyaknya tim kesehatan yang datang di Wasior.

Walau di papan informasi resmi tentang bencana dijadwalkan pendidikan sudah berjalan, pada kenyataannya sekolah belum mulai. Para guru TK di kampung MIei berinisiatif memulai pengajaran PAUD. Selebihnya belum ada sekolah yang mulai proses belajar. Beberapa sekolah masih tergenang lumpur atau dipakai pengungsian. SMA 1 Wasior tembok ruang kelasnya dijebol batu-batu dan pohon hingga menjadi aliran sungai baru. Sekolah yang masih utuh pun belum tentu punya guru untuk mengajar. Tak salah jika presiden meminta periode tanggap darurat diperpanjang 14 hari.

Global Rescue NetworkAmalia Yunita & Atek

Categories: Wasior

Kabar dari Wasior II

October 21, 2010 Leave a comment

Sebelas hari  telah berlalu sejak banjir besar melanda Teluk Wondama. Tim Global Recue Network yang membuka posko di kampung Miei hari ini membagikan sembako, terpal, dan sarung di kampung Dotir, Distrik Warwai. Kampung ini merupakan daerah terujung yang terkena bencana dari 24 km sepanjang garis pantai yang sebagian besar tersapu. Jembatan panjang yang menjadi penghubung jalan terputus sehingga harus berjalan menyeberangi dua sungai kecil untuk dapat tiba di tempat pengungsi. Sebanyak 8 rumah yang tinggal di sisi kanan sungai semua hanyut tersapu banjir. Beruntung tidak satupun korban nyawa melayang di daerah ini. Jembatan yang putus menjadi faktor keberuntungan bagi masyarakat yang tinggal di tepi kiri sungai, karena jika gelondongan batu dan kayu tersumbat di jembatan air akan menerjang rumah-rumah mereka. Inilah yang terjadi di sepanjang pantai, jembatan-jembatan kecil menyumbat air sehingga air dengan liar menerjang rumah di kiri-kanan sungai.Saat ini para pengungsi membuat rumah panggung dari kayu dan terpal seadanya di tengah hutan. Beberapa diantaranya juga terdapat bayi dan anak-anak balita. Malam dilalui tanpa penerangan. Tidak banyak bantuan yang datang ke tempat ini, karena selain letaknya paling jauh di Selatan, banyak juga yang tidak mengira ada pengungsi yang tinggal disana.

Terhitung sekitar 2000 korban banjir masih berada di sekitar Wasior yang tersebar di beberapa kamp pengungsi dan tinggal di pinggir jalan utama. Lebih dari 30 organisasi atau sebanyak kurang lebih 500 relawan dari TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, RAPI, PLN, PU, Peduli BUMN dan lain-lain bekerja membantu upaya pemulihan dalam masa tanggap darurat yang akan berlangsung hingga 27 Oktober 2010. Sebagian besar adalah tim kesehatan sebanyak lebih dari 10 institusi dan organisasi yang mengadakan pengobatan massal di banyak titik. Penyakit yang terbanyak diderita adalah ISPA, penyakit pada sistem otot dan jaringan ikat dan luka/lecet.Jika melihat pengalaman dari bencana ke bencana dimana hal yang sama selalu dialami, ada kemajuan yang sangat dalam hal pemulihan fasilitas di Wasior. Kerja keras tim PU yang mendatangkan hingga 30 alat berat membersihkan lumpur, batu besar dan gelondongan kayu yang tersebar di hampir sepanjang 24 km pesisir pantai sehingga jalan sudah dapat dilalui. Listrik yang sudah menyala, walau hanya jam tertentu juga turut menghidupkan dan sedikit memulihkan keadaan.

Masyarakat Wasior biasa mandi, mencuci dan mengambil air di sungai. Banyak sekali mata air dengan supply air bersih yang besar dari kaki bukit yang memanjang sejajar garis pantai. Karenanya air bersih dan sanitasi relative tidak menjadi kendala.Hari ini ditemukan lagi 1 jenazah perempuan tanpa kepala di Pelabuhan, sehingga total jumlah korban tewas yang ditemukan berjumlah 156 orang. Diperkirakan masih 146 korban yang belum ditemukan. Bapak Japari bersama komunitas masyarakat Buton yang menjadi mayoritas penduduk di Pasar Sangway yang hancur rata dengan tanah masih terus mencari ibunya diantara lumpur tebal yang menutupi bekas kios sepanjang pantai yang telah rata dengan tanah. Tak lebih dari 5 rumah yang tersisa dalam keadaan rusak total.

Banyak masyarakat yang tidak percaya banjir ini disebabkan illegal logging.  Tidak ditemukan masyarakat yang bekerja dengan chainsaw di atas gunung. Sebagian malah percaya bahwa di atas sana ada daerah skaral yang tidak boleh didatangi. Banjir seperti ini belum pernah mereka dengar bahkan dari cerita orang tua-orang tua mereka. Yang mereka ketahui di atas sana terdapat telaga yang ditopang oleh pohon-pohon tua. Curah hujan yang luar biasa membuat topangan tersebut tak lagi mampu menampung air dan akhirnya turun bak air bah. Air bah ini membawa serta beribu gelondongan kayu-kayu besar yang tercabut hingga ke akarnya. Juga batu-batu besar serta lumpur yang tidak menempel pada tanah dan menghantam serta merobohkan, bahkan tembok-tembok yang kuat dan jembatan sekalipun. Terdapat 6 jembatan yang menahan gelondongan kayu dan batu sehingga air meleber ke sisi kiri kanan sungai. Akhirnya sungai-sungai kecil yang berjejer di sepanjang pantai itupun berpindah. Sungai menjadi jalan, jalan menjadi sungai. Itulah fenomena alam yang terjadi di Wasior. Sebuah pelajaran baru yang harus diantisipasi untuk upaya mitigasi hingga daftar di bawah ini dapat dikurangi atau hilang sama sekali.

Categories: Wasior

Operasi Wasior

October 13, 2010 Leave a comment

Bencana alam kembali menimpa bumi Indonesia. Dini hari, Senin, 4 Oktober 2010, tepat jam 6 pagi 7 desa di Kecamatan Wasior, Kab Teluk Wondama, Papua Barat digelontor banjir bandang yang hebat. Sejumlah warga yang baru akan memulai hari berlarian dikejar banjir bandang dan sebagian diantaranya tak tertolong. Mereka yang bertahan hidup sebanyak 1.859 orang mengungsi ke Manokwari, ibu kota Kab Teluk Wondama, 233 orang ke Nabire, 2.283 orang di sekitar Kab Teluk Wondama dan sebagian dari mereka yang bersasal dari Bau-bau, Sulawesi Tenggara kembali ke rumah keluarganya.

Wasior menjadi lantas menjadi daerah yang terisolir. Jembatan penghubung putus, listrik padam. Namun sebagian warga tetap bertahan dan mulai membersihkan rumah masing-masing dari puing-puing dan lumpur atau mengungsi di salah satu Puskesmas dan mengantri untuk dapat pergi keluar Wasior.

Dari Wasior, perjalanan ke Manokwari bisa ditempuh dengan kapal selama kurang lebih 18 jam jika cuaca baik. Dengan kapal Pelni bisa lebih cepat yaitu 8 jam tapi hanya terjadwal 2x sebulan. Mereka yang punya uang dapat mengungsi ke Manokwari dengan menumpang penerbangan komersil selama 1 jam menggunakan pesawat kapasitas 12 orang yang terbang 2-4 x sehari.

Di Manokwari terdapat 2 camp pengungsi dimana seluruhnya diperkirakan terdapat sekitar 2.000 pengungsi. Jumlah ini terus bertambah mengingat masih banyak korban yang menunggu untuk dapat keluar dari Wasior.

Tim Global Rescue Network pada masa tanggap darurat ini, melakukan assessment, bantuan medis dan merencanakan detail operasi bantuan agar bantuan yang diberikan tepat dan bermanfaat bagi warga yang membutuhkan dan tiba pada waktu yang tepat. Direncanakan Global Rescue Network akan terjun mendistribusikan bantuan setelah masa tanggap darurat selesai.

Bantuan bagi korban banjir Wasior dapat disalurkan melalui Global Rescue Network berupa:
• Makanan cepat saji (makanan kaleng dan kemasan instant)
• Sembako
• Terpal
• Selimut
• Sarung
• Tikar
• Perlengkapan kebersihan dan rumah tangga
• Susu dan makanan bagi bayi dan balita
• Obat-obatan dan vitamin sesuai jenis penyakit di bawah
• Masker
• Sepatu boot
• Sarung tangan

Bantuan berupa logistik di atas akan dibeli di Manokwari.

Bantuan dana dapat disalurkan melalui

BCA Cab MT Haryono
No. 7160050017
a/n Global Rescue Network

Data Pengungsi di Manokwari 11 Oktober 2010:
Pengungsi diperkirakan sebanyak 2.000 orang berpusat di 2 titik.
Data pengungsi di Korem Manokwari:

1. < 1 tahun :  38 orang
2. 1 – 5 tahun : 167 orang
3. 6 – 15 tahun : 235 orang
4. 16 – 49 tahun : 601 orang
5. > 50 tahun    53 orang

Total : 1.094 orang
Ibu hamil : 7 orang

Data penyakit terbanyak sesuai urutan:

1. ISPA
2. Penyakit Kulit
3. Penyakit Otot & Sendi
4. Malaria klinis
5. Cephalgia
6. Diare akut
7. Trauma tajam & tumpul
8. Malaise/nafsu makan turun
9. Dyspepsia
10. Common cold
11. Hipertensi

Contact:GLOBAL RESCUE NETWORK

Freddy Sutrisno/Chairman/08161811075
Lody Korua/Vice Chairman/08161993244
Amalia Yunita/ General Sec/08129491388
Ita Budhi/Funding/08111140624

Categories: Wasior
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.