Kabar dari Wasior V
Sebagian besar korban banjir Wasior mengungsi ke Manokwari. Disana mereka ditempatkan di lapangan KODIM yang saat ini dihuni 1.178 pengungsi dan BLK yang dihuni 2.180 pengungsi, sementara diperkirakan sebanyak 1.571 orang tinggal di rumah sanak saudaranya di kota Manokwari. Baik di lapangan KODIM maupun BLK para pengungsi terurus dengan baik. Banyak relawan yang dengan sepenuh hati mengurus mereka. Makanan, logistik, sanitasi semua tercukupi hingga saat ini. Program pendidikan terutama bagi mereka yang akan mengikuti ujian sekolah akan segera dimulai dengan memasukan mereka ke sekolah-sekolah yang berada di Manokwari. Semua murud SD yang terdata juga telah mendapat seragam sekolah dalam jumlah yang cukup. Ada 236 guru yang tinggal di pengungsian. Tak banyak yang memilih tinggal di Wasior.

“Ibu kami hanya perlu uang saja, andaikan ada yang bagikan uang sedikit saja”, begitu celoteh Ita yang berasal dari Buton. Warga Sulawesi Selatan memang banyak mengungsi ke tempat ini. Mereka sebagian besar para pedagang yang menghidupi roda perekonomian dan perdagangan di Wasior. Pasar Sanduay yang baru diresmikan Juni 2010 hancur rata dengan tanah dan menelan banyak korban dan harta. Banyak diantara para korban di tempat ini yang bahkan menyimpan uang hingga ratusan juta rupiah yang turut hanyut terbawa air bah.
Kondisi yang berbeda dialami pengungsi yang memilih untuk tetap tinggal di Wasior. Tak banyak didatangani relawan dan organisasi yang membantu. Jangankan pakaian sekolah, logistikpun tak terbagi rata. Kelemahan assessment dan tidak adanya mapping titik pengungsian bisa jadi salah satu penyebabnya. Hingga masa tanggap darurat hampir berakhir tim GRN tak juga mendapatkan peta administratif Teluk Wondama. Gedung Pemerintah Daerah yang berdiri dengan megah tak terjamah banjir kehilangan karyawannya yang hampir semua mengungsi ke Manokwari. Akhirnya bermodalkan peta topografi serta GPS tim GRN melakukan mapping pada daerah-daerah pinggiran sambil mendistribusikan logistik dan keperluan pengungsi sesuai dengan kebutuhan masing-masing area.
Hingga lebih hari ke delapan belas setelah bencana datang jalanan masih dipenuhi lumpur dan bau busuk. Beberapa diantara puskesmas dan rumah sakit yang penuh lumpur mulai dibersihkan. Banyak peralatan medis yang tidak dapat diselamatkan lagi. Saat running teks di salah satu station TV menyatakan cuaca buruk melanda Wasior kami kepanasan karena matahari Papua begitu terik menyengat. Lumpur berubah menjadi debu yang beterbangan kemana-mana. Saat diberitakan adanya banjir bandang susulan banyak masyarakat panik dan ingin secepatnya melaut ke Manokwari. Malam itu memang hujan turun sangat lebat.. Bersama masyarakat kami berjaga semalaman dengan seluruh perlengkapan dan pelampung di tangan. Setiap ada bunyi gemuruh para pemuda naik mencari asal suara. Alur-alur sungai baru yang tak beraturan juga terus dijaga agar jangan sampai menimbulkan sumbatan.
Kesibukan mulai kembali normal dengan mulai munculnya pedagang yang berjualan di pasar yang bentuknya masih tak beraturan. Bahkan mini market pun buka di tengah jalanan yang penuh lumpur yang tengah dibersihkan alat berat. Dengan mulai dibukanya kios-kios rodak perekonomian muali berputar lagi. Untuk para organisasi yang memberikan bantuan pangan seperti GRN, supply bahan pangan menjadi tak serumit ketika masih harus didatangkan dari Manokwari.Teluk Wondama ternyata menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Ikan yang melimpah laut hijau bergradasi biru. Laut yang menjadi coklat saat bencana datang mulai kembali menampakkan keindahannya. Jika kita mendengar cerita masyarakat, hingga tahun 70an sisi pantai yang tertutup hutan dipenuhi burung kakak tua putih, sehingga jika kita datang dari arah pelabuhan, hutan hijau tampak bernuansa putih. Sayangnya burung-burung itu tak bersisa sekarang. Ditembaki untuk dimakan atau dijual hingga tak ada lagi. Bukan juga musnah akibat bencana yang datang.
Amalia Yunita & Atek 23 Oktober 2010

















