Archive

Archive for February, 2011

Program Pengelolaan Tanaman Cabai untuk Kelompok Usaha Tani di Cepogo

February 7, 2011 Leave a comment


Erupsi Merapi, November 2010

Masih teringat jelas beberapa bulan lalu ketika Gunung Merapi memuntahkan awan panas yang luar biasa besar sehingga mengharuskan masyarakat dilerengnya yang berjarak sampai radius 20 km harus dievakuasi ketempat yang lebih aman. Dalam kejadian ini juga banyak korban jiwa yang melayang karena terjangan awan panas tersebut. Pada waktu itu ratusan ribu warga harus meninggalkan harta benda dan hewan ternaknya sampai batas waktu yang telah ditentukan.Global Rescue Network (GRN) turut membantu proses evakuasi warga dari sisi timur Merapi selama beberapa minggu sampai kondisinya lebih kondusif. Selain membantu evakuasi GRN juga mengadakan operasi medis dan pemberian bantuan logistik di titik-titik pengungsian. Sungguh miris melihat banyak sekali warga yang kehilangan rumah, harta benda, dan bahkan mata pencahariannya karena bencana Merapi tersebutDalam kesempatan kali ini GRN kembali mengunjungi warga sekitar lereng Merapi, tepatnya di Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali – Jawa Tengah untuk memberikan bantuan.Bantuan kali ini adalah pemberian paket bibit cabai yang nantinya akan digarap oleh Kelompok Usaha Tani. Untuk tahap awal GRN menyerahkan 40.000 batang bibit cabai beserta mulsa. MPK, Dolomit, pupuk kandang, fungisida dan insektisida.

Bantuan ini sendiri hasil dari kerjasama antara GRN dan Global Jaya International School – Bintaro. Dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2011, paket bantuan bibit cabai ini langsung diserahkan oleh Bapak Freddy A. Sutrisno selaku Chairman GRN kepada masing-masing perwakilan Kelompok Tani. Program ini sendiri dilaksanakan setelah mendapatkan hasil dari pendataan sebelumnya terhadap kebutuhan warga terutama perekonomian karena mata pencaharian mereka rata-rata adalah bertani.
Untuk sementara 40.000 paket bibit cabai ini dikelola oleh 20 Kelompok Usaha Tani, dimana setiap Kelompok mempunyai anggota sekitar 25 orang (500 petani). Diharapkan setelah panen pertama kemudian bibit-bibit cabai yang baru dikembangkan kembali oleh Kelompok Tani yang lain. Keuntungan yang didapatpun dapat dikelola kembali oleh para petani sehingga menjadi lebih berkembang dan mampu memperbaiki roda perekonomian para petani yang sebelumnya sempat hilang.


Paket bibit cabai yang siap diserahkan

Ini merupakan pilot project kami (GRN) dalam keseriusan membantu pemulihan perekonomian masyarakat sekitar lereng Merapi pasca erupsi. Kami berharap dapat mengembangkan program ini secara berkala dengan target dapat membatu pemulihan  5.000 petani dengan bantuan hingga  400.000 batang bibit cabai atau tanaman lainnya serta alat-alat pertanian lainnya.

Categories: Merapi

Melawan Mongso, Mitos Petani Lereng Merapi

February 7, 2011 Leave a comment


Bapak Yatno – 60 tahun. Sedang berada di kebunnyakan mengarah ke desa dan kebunnya. Sebelum mengungsi ke gedung Gelanggang Olahraga Boyolali,

Saat diamati dari kejauhan, sosok yang nampak rapuh itu, hanya diam saja. Dia jongkok diantara gundukan tanah yang membentuk guludan dan parit-parit. Asap rokok yang dihembuskannya keudara menandakan bahwa, Yatno, nama pak tua itu, sedang beristrahat.

Sejak pagi dia mencangkul tanah di lereng perbukitan desa Kadipiro kecamatan Cepogo Jawa Tengah. Hawa sejuk pegunungan seakan menjadi tenaga tambahan baginya yang sudah berumur 65 tahun. Tanah yang menurun  ditanaminya sayur sayuran seperti kol, dan daun bawang. Ladang itu hanya berjarak tiga kilo meter dari gunung Merapi.

Ketika terjadi bencana Merapi, Yatno dan keluarganya yaitu istri dan dua anak perempuannya diharuskan mengungsi. Semula Yatno bersikeras tetap bertahan dirumahnya karena tanaman sayur yang  digarapnya  hampir panen. Selain itu, Yatno yakin bahwa hembusan angin  selalu kearah Selatan. Dengan begitu, menurut Yatno, debu  Merapi tidak akan mengarah ke desa dan kebunnya. Sebelum mengungsi ke gedung Gelanggang Olahraga Boyolali, Yatno sempat kucing kucingan dengan aparat keamanan. Mereka mendapat tugas  mengevakuasi penduduk sekitar gunung Merapi. Namun mengingat anak dan istrinya sudah mengungsi, maka tidak ada pilihan lain baginya selain ikut mengungsi.

Di pengungsian, tiap hari pikirannya selalu tertuju kepada kebunnya dilereng bukit. Hari hari di pengungsian diisinya dengan berdiskusi dengan pengungsi lainnya. Saling bertukar pengalaman, baik soal bercocok tanam maupun saat gunung Merapi meletus. Yatno dan keluarganya hanya bertahan dua minggu dipengungsian, selepas itu dia memberanikan diri kembali ke desanya. Ternyata kebun yang ditanaminya berbagai sayuran, sudah porak poranda berselimut debu. Yatno bingung bagaimana membayar bibit, pupuk dan obat anti hama yang dulu dipakai menanam sayur sayuran yang kini sudah hancur hancuran. Dia berharap bisa mendapat keringanan dari koperasi supaya hutangnya dapat dicicil. Yatno meragukan keberhasilan tanamannya pasca bencana Merapi ini.Sikap pesimis itu bagi Yatno bukan tanpa alasan. Dia mulai menanami ladangnya tepat pada bulan Januari. Bulan Januari bagi penduduk sekitar lereng Merapi adalah bulan mongso, artinya bulan pemangsa. Masyarakat lereng Merapi sejak dulu sudah berpantang mulai menanam di bulan Januari. Kalau pantangan itu diabaikan  mereka percaya bahwa  apa saja yang mereka tanam tidak akan menghasilkan panen yang bagus. Tanaman mereka akan dimongso (dimakan) oleh berbagai pengganggu, baik yang kasat mata seperti hama maupun yang tidak terlihat seperti roh jahat. Pertanda akan ada gangguan mongso itu menurut Yatno sudah nampak. Sejak dia mulai membersihkan lahan yang akan ditanaminya ada saja hambatannya. Batang batang pohon tomat yang rusak karena debu Merapi jadi keras membatu, sulit dimusnahkan dengan cara dibakar. Debu yang menyelimuti batang dan daunnya  mengeras seperti terbuat dari batu, kering keras dan menghitam.

Isyarat lain adalah patahnya tangkai cangkul yang dipergunakannya ketika mengolah tanah. Saat  akan menyemai bibit Kol dan bibit Daun Bawang hujan turun terus menerus. Padahal para petani mengerti bahwa bibit kol dan daun bawang tidak boleh banyak air. Belum lagi rubuhnya pondok tempatnya berteduh dari hujan, pondok itu rubuh begitu saja tanpa sebab.

Pada situasi itulah, Yatno dan kelompok taninya mendapat undangan untuk rapat bersama Global Rescue Network (GRN). Dalam rapat itu, kelompok tani se-kecamatan Cepogo mendapat tawaran paket bertanam cabai kriting. Tawaran dalam bentuk paket yang terdiri dari bibit cabai, pupuk dan obat anti hama ini, tentu sangat dinantikan oleh petani. Dengan adanya paket bibit cabai ini timbul lagi harapan petani untuk menggarap ladangnya.


Bpk. Yatno (paling kiri) bersama dengan GRN dan perwakilan KUT lainnya sedang melaksanakan acara serah terima paket bibit cabai

Program yang diprakarsai oleh GRN ini seolah merupakan  anugerah bagi Yatno dan kelompoknya. Ada 40.000 bibit cabai yang di berikan untuk 20 Kelompok Usaha Tani (KUT). KUT Ngudi Rahayu yang merupakan kelompok Yatno mendapatkan 2.000 bibit cabai, pupuk serta obat obatan akan. Setelah dihitung, tanaman ini memerlukan tanah sekiranya seribu meter persegi. Ketika panen tiba, tanaman cabai ini  akan menghasilkan keuntungan berlipat sampai habis masa panen tiga bulan kedepan. Tentu saja jika tidak ada hambatan yang berarti bagi pertumbuhannya. Demikian prediksi Agus Sigid STp salah seorang staf Dinas Pertanian Kab. Boyolali.  Apa lagi untuk menghadapi mongso, tenaga penyuluhan pertanian dari Universitas Gajah Mada Yogjakarta akan mendampingi para petani.

Bukan hanya mongso yang menjadi mitos bagi petani lereng Merapi. Masih ada beberapa larangan lagi yang menjadi pantangan mereka ketika mengerjakan ladangnya. Penyuluh pertanian menerangkan pada semua kelompok tani di sekitar kecamatan Selo dan kecamatan Cepogo, mongso itu hanya kiasan. Hanya mitos berupa cerita dari mulut ke mulut yang tidak berdasar. Bulan Januari adalah puncak musim penghujan yang debit airnya mampu menggerus tanah curam. Jika guludan yang dibuat tanpa sanering yang baik, tentu digilas air hujan. Lain dari itu, bulan Januari adalah siklus berkembang biaknya beberapa jenis hama tanaman. Kesemua gangguan bagi petani di lereng Merapi itu dijelaskan secara rinci disertai beberapa solusi. Untuk mengatasi derasnya air, maka guludan harus dibuat menurun.

Beberapa jenis hama daun, tidak akan mendekat jika dikebun itu ada pohon tembakau, walaupun hanya beberapa batang saja. Masih ada beberapa cara lagi untuk mencegah datangnya mongso kedalam kebun.
Dengan bahasa daerah yang kental, Yatno menyatakan akan melawan mongso dimusim tanam ini. Tentu saja perlawanannya terhadap mongso  kali ini berdasarkan arahan  dari penyuluh pertanian. Bukan dari mbah Sarmo dukun kampung yang selama ini menjadi tempatnya meminta petunjuk. Dia berjanji tidak akan  percaya lagi dengan berbagai penerawangan mbah Sarmo. Penjelasan dari penyuluh pertanian sudah jelas dan gamblang. Nampaknya, Yatno sudah meluruskan  arah jalan hidupnya kedepan. Ya,  memang begitu seharusnya!

Categories: Merapi
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.