Home > Mentawai > Perjuangan Melawan Ketidapastian Hidup

Perjuangan Melawan Ketidapastian Hidup

Bu Merlin, sebut saja dia seperti itu. Seorang Ibu dari Desa Malakopak Dusun Baleraksok Pagai Selatan yang bernama lengkap Merliana ini  menceritakan kisahnya tentang kejadian Tsunami yang melanda dan mengakibatkan ketidakpastian hidupnya selama berada di tempat “aman”.

Sehari setelah Tsunami melanda Mentawai yang terlihat hanyalah kehancuran dimana-mana. Banyak korban meninggal dan luka di Pagai Selatan, salah satunya adalah Bu Merlin. Wanita berusia 37 tahun ini menjadi salah satu korban keganasan Tsunami yang melanda di desanya. Kakinya patah karena tertimpa reruntuhan rumahnya, sementara keluarganya yang lain selamat.

Sehari setelah kejadian, Bu Merlin pun ditolong oleh salah satu Organisasi Kemanusiaan yang bergerak cepat masuk ke daerah Pagai Selatan. Bu Merlin beserta beberapa korban luka lain yang masih selamat kemudian dievakuasi ke Puskesmas Kecamatan Sikakap di Pagai Utara.

Pada tanggal 5 Nopember 2010 3 orang korban tsunami yang mengalami luka berat di evakuasi ke Padang dengan menggunakan helicopter (salah satunya adalah bu Merlin). Sesampainya di salah satu Rumah Sakit besar di Padang Bu Merlin beserta korban yang lain langsung dibawa ke ruang perawatan khusus bagi korban Tsunami Mentawai.
Hasil rontgen awal menunjukkan bahwa tulang paha Bu Merlin patah dan harus segera di operasi. Pada tanggal 8 Nopember 2010 operasi kemudian dilakukan dan hasilnya kaki yang patahpun di pasang alat bantu berupa pen untuk menjaga supaya tulang tidak bergeser.

Hampir 3 minggu Bu Merlin berada di Rumah Sakit tersebut dengan di temani suaminya yang bernama J. Sinaga (44 tahun). Tapi selama itu pula tak ada perawatan lebih lanjut tentang kondisi bu Merlin. Tiap malam Bu Merlin teriak menahan sakit akibat efek samping dari hasil operasi tulangnya. Yang menyedihkan lagi tak ada satu Dokter atau bahkan perawatpun yang datang untuk sekedar melihat perkembangan kondisi bu Merlin.

Ini tidak terjadi pada Bu Merlin saja. Teman satu ruangan Bu Merlin bahkan sampai meninggal dunia di tempat, salah satunya akibat terabaikan di rumah sakit. Dan juga suami Bu Merlin yang menjaga tidak dipedulikan masalah makan dan kesehatannya, padahal mereka adalah korban Tsunami dan tidak memiliki apa-apa lagi.  Atas dasar tersebut dan juga trauma yang mendalam akhirnya bu Merlin dengan diwakilkan suaminya bersikeras untuk minta dipulangkan.
Rumah Bu Merlin berada di Km. 37 Pagai selatan. Tak ada rumah sakit disana. Perjalanan kesanapun membutuhkan waktu yang sangat lama dan sulit. Selain harus menyebrangi selat, perjalan darat juga harus menggunakan truk atau kendaraan garden ganda karena kondisi jalan yang kadang rusak parah serta berlumpur.  Oleh karenanya Bu Merlin tidak diijinkan pulang sampai kerumahnya, tetapi dia diijinkan kembali ke Sikakap Kepulauan Mentawai.

Setelah sampai di Mentawai Bu Merlin tinggal di GKPM ( Gereja Kristen Pagai Mentawai ) bersama suami dan anaknya. Selain Bu Merlin juga ada 2 orang korban luka yang sempat di evakuasi ke Padang kini berada di GKPM. Kondisi yang dialami Bu Merlin juga tidak jauh beda ketika dia berada di Padang. Setiap malam Bu Merlin berteriak menahan sakit di luka bekas operasinya.

PENGHARGAAN TERBESAR

Tanggal 25 Desember 2010 Pukul 20:00 GRN dan berbagai organisasi lainnya yang menamakan diri Tim Relawan Satu Rasa tiba di Sikakap untuk melanjutkan misi kemanusiaan. Kami kemudian kedatangan tamu dari NGO Italia dan menginformasikan temuannya. Rekan2 dari NGO Italia bercerita kasus yang dialami Bu Merlin dan kondisinya saat ini, karena NGO tersebut tidak bergerak dalam penanganan kesehatan maka mereka berkoordinasi dengan kami.
Atas informasi tersebut kami membagi tugas. Beberapa Dokter ditugaskan untuk mendatangi Gereja tempat Bu Merlin berada sementara Tim yang lain tetap menjalankan tugas sesuai dengan rencana. Setelah di diagnosa oleh Dokter William yang berasal dari Maranatha Social Service and Crisis Centre (MSSCC) Bandung menjelaskan bahwa Bu Merlin harus dirujuk ke Rumah Sakit atau ke Dokter Spesialis tulang (Ortopedi). Setelah mendapat penjelasan kami pun menawarkan untuk membawa Bu Merlin ke Padang untuk segera diambil tindakan medis. Tetapi suami bu Merlin menolak atas dasar trauma karena di telantarkan oleh Rumah sakit di sana.

Beberapa kali kami membujuk suami dari Bu Merlin untuk diijinkan membawa Bu merlin ke Padang karena jika dibiarkan kondisi Bu Merlin akan semakin parah. Kami menjelaskan bahwa di Padang Bu Merlin akan dirujuk ke Rumah sakit spesialis tulang, bukan Rumah Sakit Umum. Dan beberapa pihak telah menyatakan jaminan terhadap perawatan Bu Merlin selama di Padang.

Setelah melakukan perdebatan yang panjang dan kami meyakinkan bahwa tidak ada maksud lain sama sekali selain kemanusiaan, pada tanggal 29 Desember 2010 akhirnya suami Bu Merlin pun mengijinkan kami membawa Bu Merlin ke Padang bersamaan pula dengan Tim Satu Rasa pulang ke Padang.

Sampai di Padang Bu Merlin langsung mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Khusus Bedah Tulang Ropanasuri.  Dokter spesialis tulang menjelaskan menurut hasil rontgen terlihat bahwa operasi Bu Merlin yang pertama ada kesalahan sehingga berakibat daging disekitar patahan tulang tersebut terjepit. Itu yang membuat Bu Merlin berteriak kesakitan setiap malam. Berdasarkan diskusi antara Dokter William dan Dokter Spesialis Ortopedi di RS tersebut, Bu Merlin harus di operasi ulang.

Tanggal 2 Januari 2011 kami kembali menanyakan perkembangan terakhir bu Merlin melalui Bapak Ade Rahardian selaku Koordinator dari Posko Satu Rasa. Bapak Ade menjelaskan sekarang kondisi Bu Merlin sudah lebih baik. Hari ini dia sudah dilatih untuk menggerakkan kakinya. Suami Bu Merlin pun sudah dapat tersenyum lebar.
Sungguh kabar yang sangat menggembirakan mendengar kondisi Bu Merlin sudah lebih baik. Tak dapat kami bayangkan jika kami tidak berhasil membujuk suaminya untuk segera dirujuk ke Rumah Sakit. Mungkin sekarang kondisinya akan bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat ini.

Walaupun bukan trauma karena Tsunami, setidaknya kami berhasil membuat Bu Merlin dan sang suami tersenyum dan melupakan trauma atas pelayanan kesehatan yang sempat menghantui mereka.Terima Kasih untuk Bu Merlin dan keluarga yang sudah mempercayakan kami untuk membantu sesama dengan tulus dan ikhlas. Ini adalah penghargaan terbesar untuk kami. Semoga lekas sembuh dan dapat kembali beraktifitas.

Jakarta 12 Januari 2011
GLOBAL RESCUE NETWORKAtek

Sumber :
Lody Korua/GRN (08161993244)
Sofyan/GRN (085882589564 )

Categories: Mentawai
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.