Home > Uncategorized > Andipal Bocah Ajaib dari Sabue Gunggung

Andipal Bocah Ajaib dari Sabue Gunggung

Sepertinya tak berlebihan jika menyebut Andipal sebagai anak ajaib. Seorang bocah berusia 6 tahun ini menjadi satu-satunya yang selamat terhadap keganasan Tsunami yang menerjang kampungnya di Sabue Gunggung. Setelah mendengarkan cerita dari berbagai sumber, akhirnya tulisan ini dapat terangkai menjadi sebuah cerita.
Andipal adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara pasangan Frans (36 tahun) dan Nurtalina (36 tahun). Kakaknya bernama Andi Lita (11 tahun), Adiknya bernama Tikal (3tahun) dan Nikma (2 tahun). Mereka tinggal di Dusun Sabue Gunggung bersama 44 KK lainnya. Dalam kesehariaannya Andipal adalah anak yang ceria dan sangat dekat dengan ayahnya. Karena masih kecil dan cenderung takut Andipal sering sekali meminta tidur dalam pelukan ayahnya, apalagi ketika cuaca sedang buruk.

Pada hari itu ketika gempa bumi dan Tsunami melanda, Andipal sedang berada dalam pelukan ayahnya karena sebelumnya hujan juga melanda seharian. Begitu cepat bencana itu datang. Tsunami telah menghancurkan semua yang dilewatinya. Dusun Sabue Gunggung seolah lenyap. 31 bangunan dan 1 gereja yang ada semua hancur dan rata dengan tanah, termasuk 44 KK yang ada di dalamnya. 121 jiwa meninggal dunia, sungguh pemandangan yang sangat memilukan.

Adolf Bastian dan Juniawan, 2 orang pemuda dari Desa lain yang juga adalah kerabat dekat Andipal datang ke Desa Sabue Gunggung pada hari kedua setelah Tsunami menerjang untuk mencari sanak keluarga mereka yang masih hidup. Sambil mencari keluarganya, Adolf dan Juniawan membantu warga lain mengumpulkan jenazah-jenazah yang ditemukan. Atas kesepakatan dari Kepala Dusun Baru-baru bernama Nahor (62 tahun) dan Kepala Desa Batu Monga yang bernama Jen Joseph (48 tahun) semua jenazah yang sudah di temukan kemudian dikuburkan secara massal.
Karena masih penasaran belum menemukan keluarganya baik hidup maupun meninggal, Adolf dan Juniawan menyusuri pantai dan mencari di setiap puing-puing bangunan atau batang pohon yang ditemuinya, tetapi terap tak ada hasil yang didapat oleh kedua pemuda ini.

Sampai pada akhirnya di hari ke 3 pancarian mereka (Adolf dan Juniawan) melihat seorang anak yang berjalan dari kejauhan di pinggir pantai dengan jalan terpincang-pincang. Setelah mereka berjalan semakin dekat baru terlihat jelas bahwa itu adalah Andipal yang berada tak jauh dari pohon kelapa kembar (disebut pohon kelapa kembar karena tumbuh berdekatan dan berukuran sama besar yang juga sekaligus menjadi tempat favorit Andipal bermain bersama teman-temannya).

Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Andipal yang hanya memakai celana pendek dengan badan penuh dengan lumpur yang sudah mengering. Ditangan kanannya terlihat Andipal sedang memegang 1 buah durian dan ditangan kirinya memegang papan selancar (surfing). Betapa bahagianya mereka dapat menemukan salah seorang sanak keluarganya yang masih hidup. Andipal langsung di bawa ke Puskesmas terdekat untuk menjalani perawatan kesehatan. Ternyata tidak ada luka serius yang menimpa Andipal, kecuali haus dan lapar.

BERKAT PAPAN SELANCAR DAN SEBUAH DURIAN

Andipal kemudian dibawa kerumah kakeknya yang tinggal di Dusun Sikautek yang masuk dalam wilayah Taikako Kecamatan Sikakap Pagai Utara. Setelah berhasil diajak berbicara oleh kakeknya setahap demi setahap terungkaplah fakta selamatnya Andipal dari Tsunami yang membinasakan seluruh warga Sabue Gunggung.

Menurut cerita Andipal pada waktu Tsunami menerjang dia terbawa arus sampai ke tengah laut, secara tidak sengaja dia menggapai dan memeluk sepotong papan yang ternyata adalah papan selancar. Setelah terapung-apung selama 12 jam Andipal melihat sebuah durian yang mengambang didekatnya, kemudian langsung diambilnya durian tersebut dengan harapan dapat membuka durian itu untuk dimakan.Upaya mencari sesuatu yang dapat dijadikan alat untuk membuka durian membuatnya lupa akan makan dan minum. Hujan deras dan panas terik selama 2 hari 2 malam dia alami sambil terkatung-katung di laut.

Beruntung pada hari ke tiga setelah Tsunami atau tepatnya pada hari Rabu, 27 Oktober 2010 ombak membawanya ke pantai. Dengan dibantu ombak diapun mengayuh papan selancarnya menuju ke pantai tepatnya mendekati pohon kelapa kembar. Tujuannya karena yang dia ingat betul itu adalah tempat bermainnya.
Selain pohon kelapa kembar tersebut memang tak ada lagi bangunan utuh yang tersisa, semua terlihat hancur berantakan. Sebelum ditemukan oleh Adolf dan Juniawan, Andipal hanya seorang diri dengan ditemani oleh papan selancar dan durian yang terus digenggamnya.

Sebuah trauma yang sangat dalam telah dialami anak ini. Kejadian ini tak akan membuatnya lupa, apalagi dia telah kehilangan orangtua dan saudaranya. Kamipun mendapatkan kesempatan untuk dapat berkunjung dan berbicara kepadanya. Tetapi sulit sekali rasanya mencari perhatiannya. Wajahnya yang terlihat dingin menggambarkan rasa trauma mendalam menyelimuti dirinya.

Untuk sementara Andipal dirawat oleh Nukadeus (kakeknya) yang tinggal dirumah kecil berukuran 4×4 meter tanpa dinding dan hanya beratapkan terpal sumbangan dari relawan.Setiap malam dia berteriak memanggil-manggil keluarganya. Kini kebiasaan itu sedikit berkurang karena Andipal telah mempunyai teman bermain. Setiap pagi dan sore bermain bola di halaman rumah kakeknya yang berpenghuni 18 jiwa.

Mata pencaharian dari Nukadeus adalah bertani. Dia menanam talas, pisang, dan ketela pohon di tanahnya yang sempit dengan pengairan tergantung tadah hujan. 18 jiwa menggantungkan hidupnya dari hasil bertani ini. Tak pernah sepotong kue pun mereka dapatkan padahal mereka tinggal berdekatan dengan kediaman rumah Bupati Mentawai. (seperti yang diceritakan Nukadeus dan Juniawan).

Berdasarkan cerita ini nampaknya penderitaan Andipal tidak berhenti sampai disini. Berapa lama sang kakek sanggup menghidupi 18 jiwa termasuk Andipal? Bagaimana masa depan Andipal nantinya, apakah dia harus rela menghilangkan masa kanak-kanaknya untuk bekerja keras menyambung hidup? Yang pasti mereka sangat butuh bantuan nyata dari kita. Dan mungkin masih banyak Andipal-andipal lain disana yang tidak terangkat kisahnya.

Jakarta 12 Januari 2011
GLOBAL RESCUE NETWORK
Atek

Sumber :
Lody Korua/GRN (08161993244)
Sofyan/GRN (085882589564)

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.