Archive

Archive for January, 2011

Perjuangan Melawan Ketidapastian Hidup

January 18, 2011 Leave a comment

Bu Merlin, sebut saja dia seperti itu. Seorang Ibu dari Desa Malakopak Dusun Baleraksok Pagai Selatan yang bernama lengkap Merliana ini  menceritakan kisahnya tentang kejadian Tsunami yang melanda dan mengakibatkan ketidakpastian hidupnya selama berada di tempat “aman”.

Sehari setelah Tsunami melanda Mentawai yang terlihat hanyalah kehancuran dimana-mana. Banyak korban meninggal dan luka di Pagai Selatan, salah satunya adalah Bu Merlin. Wanita berusia 37 tahun ini menjadi salah satu korban keganasan Tsunami yang melanda di desanya. Kakinya patah karena tertimpa reruntuhan rumahnya, sementara keluarganya yang lain selamat.

Sehari setelah kejadian, Bu Merlin pun ditolong oleh salah satu Organisasi Kemanusiaan yang bergerak cepat masuk ke daerah Pagai Selatan. Bu Merlin beserta beberapa korban luka lain yang masih selamat kemudian dievakuasi ke Puskesmas Kecamatan Sikakap di Pagai Utara.

Pada tanggal 5 Nopember 2010 3 orang korban tsunami yang mengalami luka berat di evakuasi ke Padang dengan menggunakan helicopter (salah satunya adalah bu Merlin). Sesampainya di salah satu Rumah Sakit besar di Padang Bu Merlin beserta korban yang lain langsung dibawa ke ruang perawatan khusus bagi korban Tsunami Mentawai.
Hasil rontgen awal menunjukkan bahwa tulang paha Bu Merlin patah dan harus segera di operasi. Pada tanggal 8 Nopember 2010 operasi kemudian dilakukan dan hasilnya kaki yang patahpun di pasang alat bantu berupa pen untuk menjaga supaya tulang tidak bergeser.

Hampir 3 minggu Bu Merlin berada di Rumah Sakit tersebut dengan di temani suaminya yang bernama J. Sinaga (44 tahun). Tapi selama itu pula tak ada perawatan lebih lanjut tentang kondisi bu Merlin. Tiap malam Bu Merlin teriak menahan sakit akibat efek samping dari hasil operasi tulangnya. Yang menyedihkan lagi tak ada satu Dokter atau bahkan perawatpun yang datang untuk sekedar melihat perkembangan kondisi bu Merlin.

Ini tidak terjadi pada Bu Merlin saja. Teman satu ruangan Bu Merlin bahkan sampai meninggal dunia di tempat, salah satunya akibat terabaikan di rumah sakit. Dan juga suami Bu Merlin yang menjaga tidak dipedulikan masalah makan dan kesehatannya, padahal mereka adalah korban Tsunami dan tidak memiliki apa-apa lagi.  Atas dasar tersebut dan juga trauma yang mendalam akhirnya bu Merlin dengan diwakilkan suaminya bersikeras untuk minta dipulangkan.
Rumah Bu Merlin berada di Km. 37 Pagai selatan. Tak ada rumah sakit disana. Perjalanan kesanapun membutuhkan waktu yang sangat lama dan sulit. Selain harus menyebrangi selat, perjalan darat juga harus menggunakan truk atau kendaraan garden ganda karena kondisi jalan yang kadang rusak parah serta berlumpur.  Oleh karenanya Bu Merlin tidak diijinkan pulang sampai kerumahnya, tetapi dia diijinkan kembali ke Sikakap Kepulauan Mentawai.

Setelah sampai di Mentawai Bu Merlin tinggal di GKPM ( Gereja Kristen Pagai Mentawai ) bersama suami dan anaknya. Selain Bu Merlin juga ada 2 orang korban luka yang sempat di evakuasi ke Padang kini berada di GKPM. Kondisi yang dialami Bu Merlin juga tidak jauh beda ketika dia berada di Padang. Setiap malam Bu Merlin berteriak menahan sakit di luka bekas operasinya.

PENGHARGAAN TERBESAR

Tanggal 25 Desember 2010 Pukul 20:00 GRN dan berbagai organisasi lainnya yang menamakan diri Tim Relawan Satu Rasa tiba di Sikakap untuk melanjutkan misi kemanusiaan. Kami kemudian kedatangan tamu dari NGO Italia dan menginformasikan temuannya. Rekan2 dari NGO Italia bercerita kasus yang dialami Bu Merlin dan kondisinya saat ini, karena NGO tersebut tidak bergerak dalam penanganan kesehatan maka mereka berkoordinasi dengan kami.
Atas informasi tersebut kami membagi tugas. Beberapa Dokter ditugaskan untuk mendatangi Gereja tempat Bu Merlin berada sementara Tim yang lain tetap menjalankan tugas sesuai dengan rencana. Setelah di diagnosa oleh Dokter William yang berasal dari Maranatha Social Service and Crisis Centre (MSSCC) Bandung menjelaskan bahwa Bu Merlin harus dirujuk ke Rumah Sakit atau ke Dokter Spesialis tulang (Ortopedi). Setelah mendapat penjelasan kami pun menawarkan untuk membawa Bu Merlin ke Padang untuk segera diambil tindakan medis. Tetapi suami bu Merlin menolak atas dasar trauma karena di telantarkan oleh Rumah sakit di sana.

Beberapa kali kami membujuk suami dari Bu Merlin untuk diijinkan membawa Bu merlin ke Padang karena jika dibiarkan kondisi Bu Merlin akan semakin parah. Kami menjelaskan bahwa di Padang Bu Merlin akan dirujuk ke Rumah sakit spesialis tulang, bukan Rumah Sakit Umum. Dan beberapa pihak telah menyatakan jaminan terhadap perawatan Bu Merlin selama di Padang.

Setelah melakukan perdebatan yang panjang dan kami meyakinkan bahwa tidak ada maksud lain sama sekali selain kemanusiaan, pada tanggal 29 Desember 2010 akhirnya suami Bu Merlin pun mengijinkan kami membawa Bu Merlin ke Padang bersamaan pula dengan Tim Satu Rasa pulang ke Padang.

Sampai di Padang Bu Merlin langsung mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Khusus Bedah Tulang Ropanasuri.  Dokter spesialis tulang menjelaskan menurut hasil rontgen terlihat bahwa operasi Bu Merlin yang pertama ada kesalahan sehingga berakibat daging disekitar patahan tulang tersebut terjepit. Itu yang membuat Bu Merlin berteriak kesakitan setiap malam. Berdasarkan diskusi antara Dokter William dan Dokter Spesialis Ortopedi di RS tersebut, Bu Merlin harus di operasi ulang.

Tanggal 2 Januari 2011 kami kembali menanyakan perkembangan terakhir bu Merlin melalui Bapak Ade Rahardian selaku Koordinator dari Posko Satu Rasa. Bapak Ade menjelaskan sekarang kondisi Bu Merlin sudah lebih baik. Hari ini dia sudah dilatih untuk menggerakkan kakinya. Suami Bu Merlin pun sudah dapat tersenyum lebar.
Sungguh kabar yang sangat menggembirakan mendengar kondisi Bu Merlin sudah lebih baik. Tak dapat kami bayangkan jika kami tidak berhasil membujuk suaminya untuk segera dirujuk ke Rumah Sakit. Mungkin sekarang kondisinya akan bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat ini.

Walaupun bukan trauma karena Tsunami, setidaknya kami berhasil membuat Bu Merlin dan sang suami tersenyum dan melupakan trauma atas pelayanan kesehatan yang sempat menghantui mereka.Terima Kasih untuk Bu Merlin dan keluarga yang sudah mempercayakan kami untuk membantu sesama dengan tulus dan ikhlas. Ini adalah penghargaan terbesar untuk kami. Semoga lekas sembuh dan dapat kembali beraktifitas.

Jakarta 12 Januari 2011
GLOBAL RESCUE NETWORKAtek

Sumber :
Lody Korua/GRN (08161993244)
Sofyan/GRN (085882589564 )

Categories: Mentawai

Andipal Bocah Ajaib dari Sabue Gunggung

January 17, 2011 Leave a comment

Sepertinya tak berlebihan jika menyebut Andipal sebagai anak ajaib. Seorang bocah berusia 6 tahun ini menjadi satu-satunya yang selamat terhadap keganasan Tsunami yang menerjang kampungnya di Sabue Gunggung. Setelah mendengarkan cerita dari berbagai sumber, akhirnya tulisan ini dapat terangkai menjadi sebuah cerita.
Andipal adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara pasangan Frans (36 tahun) dan Nurtalina (36 tahun). Kakaknya bernama Andi Lita (11 tahun), Adiknya bernama Tikal (3tahun) dan Nikma (2 tahun). Mereka tinggal di Dusun Sabue Gunggung bersama 44 KK lainnya. Dalam kesehariaannya Andipal adalah anak yang ceria dan sangat dekat dengan ayahnya. Karena masih kecil dan cenderung takut Andipal sering sekali meminta tidur dalam pelukan ayahnya, apalagi ketika cuaca sedang buruk.

Pada hari itu ketika gempa bumi dan Tsunami melanda, Andipal sedang berada dalam pelukan ayahnya karena sebelumnya hujan juga melanda seharian. Begitu cepat bencana itu datang. Tsunami telah menghancurkan semua yang dilewatinya. Dusun Sabue Gunggung seolah lenyap. 31 bangunan dan 1 gereja yang ada semua hancur dan rata dengan tanah, termasuk 44 KK yang ada di dalamnya. 121 jiwa meninggal dunia, sungguh pemandangan yang sangat memilukan.

Adolf Bastian dan Juniawan, 2 orang pemuda dari Desa lain yang juga adalah kerabat dekat Andipal datang ke Desa Sabue Gunggung pada hari kedua setelah Tsunami menerjang untuk mencari sanak keluarga mereka yang masih hidup. Sambil mencari keluarganya, Adolf dan Juniawan membantu warga lain mengumpulkan jenazah-jenazah yang ditemukan. Atas kesepakatan dari Kepala Dusun Baru-baru bernama Nahor (62 tahun) dan Kepala Desa Batu Monga yang bernama Jen Joseph (48 tahun) semua jenazah yang sudah di temukan kemudian dikuburkan secara massal.
Karena masih penasaran belum menemukan keluarganya baik hidup maupun meninggal, Adolf dan Juniawan menyusuri pantai dan mencari di setiap puing-puing bangunan atau batang pohon yang ditemuinya, tetapi terap tak ada hasil yang didapat oleh kedua pemuda ini.

Sampai pada akhirnya di hari ke 3 pancarian mereka (Adolf dan Juniawan) melihat seorang anak yang berjalan dari kejauhan di pinggir pantai dengan jalan terpincang-pincang. Setelah mereka berjalan semakin dekat baru terlihat jelas bahwa itu adalah Andipal yang berada tak jauh dari pohon kelapa kembar (disebut pohon kelapa kembar karena tumbuh berdekatan dan berukuran sama besar yang juga sekaligus menjadi tempat favorit Andipal bermain bersama teman-temannya).

Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Andipal yang hanya memakai celana pendek dengan badan penuh dengan lumpur yang sudah mengering. Ditangan kanannya terlihat Andipal sedang memegang 1 buah durian dan ditangan kirinya memegang papan selancar (surfing). Betapa bahagianya mereka dapat menemukan salah seorang sanak keluarganya yang masih hidup. Andipal langsung di bawa ke Puskesmas terdekat untuk menjalani perawatan kesehatan. Ternyata tidak ada luka serius yang menimpa Andipal, kecuali haus dan lapar.

BERKAT PAPAN SELANCAR DAN SEBUAH DURIAN

Andipal kemudian dibawa kerumah kakeknya yang tinggal di Dusun Sikautek yang masuk dalam wilayah Taikako Kecamatan Sikakap Pagai Utara. Setelah berhasil diajak berbicara oleh kakeknya setahap demi setahap terungkaplah fakta selamatnya Andipal dari Tsunami yang membinasakan seluruh warga Sabue Gunggung.

Menurut cerita Andipal pada waktu Tsunami menerjang dia terbawa arus sampai ke tengah laut, secara tidak sengaja dia menggapai dan memeluk sepotong papan yang ternyata adalah papan selancar. Setelah terapung-apung selama 12 jam Andipal melihat sebuah durian yang mengambang didekatnya, kemudian langsung diambilnya durian tersebut dengan harapan dapat membuka durian itu untuk dimakan.Upaya mencari sesuatu yang dapat dijadikan alat untuk membuka durian membuatnya lupa akan makan dan minum. Hujan deras dan panas terik selama 2 hari 2 malam dia alami sambil terkatung-katung di laut.

Beruntung pada hari ke tiga setelah Tsunami atau tepatnya pada hari Rabu, 27 Oktober 2010 ombak membawanya ke pantai. Dengan dibantu ombak diapun mengayuh papan selancarnya menuju ke pantai tepatnya mendekati pohon kelapa kembar. Tujuannya karena yang dia ingat betul itu adalah tempat bermainnya.
Selain pohon kelapa kembar tersebut memang tak ada lagi bangunan utuh yang tersisa, semua terlihat hancur berantakan. Sebelum ditemukan oleh Adolf dan Juniawan, Andipal hanya seorang diri dengan ditemani oleh papan selancar dan durian yang terus digenggamnya.

Sebuah trauma yang sangat dalam telah dialami anak ini. Kejadian ini tak akan membuatnya lupa, apalagi dia telah kehilangan orangtua dan saudaranya. Kamipun mendapatkan kesempatan untuk dapat berkunjung dan berbicara kepadanya. Tetapi sulit sekali rasanya mencari perhatiannya. Wajahnya yang terlihat dingin menggambarkan rasa trauma mendalam menyelimuti dirinya.

Untuk sementara Andipal dirawat oleh Nukadeus (kakeknya) yang tinggal dirumah kecil berukuran 4×4 meter tanpa dinding dan hanya beratapkan terpal sumbangan dari relawan.Setiap malam dia berteriak memanggil-manggil keluarganya. Kini kebiasaan itu sedikit berkurang karena Andipal telah mempunyai teman bermain. Setiap pagi dan sore bermain bola di halaman rumah kakeknya yang berpenghuni 18 jiwa.

Mata pencaharian dari Nukadeus adalah bertani. Dia menanam talas, pisang, dan ketela pohon di tanahnya yang sempit dengan pengairan tergantung tadah hujan. 18 jiwa menggantungkan hidupnya dari hasil bertani ini. Tak pernah sepotong kue pun mereka dapatkan padahal mereka tinggal berdekatan dengan kediaman rumah Bupati Mentawai. (seperti yang diceritakan Nukadeus dan Juniawan).

Berdasarkan cerita ini nampaknya penderitaan Andipal tidak berhenti sampai disini. Berapa lama sang kakek sanggup menghidupi 18 jiwa termasuk Andipal? Bagaimana masa depan Andipal nantinya, apakah dia harus rela menghilangkan masa kanak-kanaknya untuk bekerja keras menyambung hidup? Yang pasti mereka sangat butuh bantuan nyata dari kita. Dan mungkin masih banyak Andipal-andipal lain disana yang tidak terangkat kisahnya.

Jakarta 12 Januari 2011
GLOBAL RESCUE NETWORK
Atek

Sumber :
Lody Korua/GRN (08161993244)
Sofyan/GRN (085882589564)

Categories: Uncategorized

GRN Rayakan Natal Bersama Korban Tsunami Mentawai

January 17, 2011 Leave a comment


Image by : bali-news-views.blogspot.com

Gempa bumi disertai Tsunami yang mengguncang kepulauan Mentawai pada Tanggal 25 Oktober 2010 malam masih menyisakan duka mendalam untuk Indonesia. Menurut informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat korban meninggal mencapai 450 orang dan pengungsi mencapai 15.353 jiwa pada masa tanggap darurat.

Pada tahap tersebut Global Rescue Network (GRN) beserta beberapa Organisasi Kemanusiaan lainnya yang tergabung kedalam Posko Satu Rasa melakukan operasi rescue di daerah Pagai Selatan selama kurang lebih 2 minggu. Kegiatan yang dilakukan adalah operasi medis dan distribusi logistik pangan dan non pangan.

Setelah berada di Jakarta terbesit ide dari Lody Korua (Koordinator Operasi Tsunami Mentawai/Wakil Ketua GRN ) untuk kembali ke Mentawai merayakan Natal bersama masyarakat korban Tsunami. Beberapa Organisasi Kemanusiaan yang pernah tergabung dalam Posko Satu Rasa pun kembali diajak bekerjasama. Ide ini pun mendapat banyak dukungan. Beberapa Organisasi menyatakan bergabung, diantaranya Komunitas Pecinta Alam AGRIKA, Maranatha Social Service and Crisis Centre (MSSCC) Bandung, Sekolah Alam Minangkabau Sumatera Barat, Posko Merah Putih Jakarta, SURFAID International Sumatera Barat, dan ORARI. Kegiatan ini juga didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat. Bahkan BPBD memberikan dukungan kendaraan operasional berupa motor trail untuk dipergunakan selama kegiatan. Kegiatan ini sendiri di gagas berdasarkan keinginan untuk berbagi kebahagiaan di hari Natal bersama korban bencana Tsunami di Mentawai.Bentuknya kebahagiaan itu diaplikasikan menjadi beberapa kegiatan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam rapat koordinasi diputuskan yang akan menjadi Koordinator Lapangan adalah Ade Edward dari BPBD Sumbar (Ketua BPBD Sumbar). Kegiatan yang akan dilakukan adalah pelayanan kesehatan berupa pengobatan gratis, pembagian paket bantuan pangan, dan pelayanan trauma/trauma healing korban Tsunami. Kegiatan ini sendiri rencananya akan berlangsung selama kurang lebih 1 minggu.

BERBAGI KEBAHAGIAAN NATAL

Pada tanggal 22 Desember 2010 Tim Relawan Satu Rasa bergerak menuju Mentawai. Tiba di Mentawai, tepatnya di Pelabuhan Sikakap  Pagai Utara Tim Satu Rasa langsung menuju ke Posko SURFAID International untuk loading barang sementara sambil melaporkan keberadaan GRN ke Posko Padang dan Jakarta sekaligus ijin penggunaan frekwensi emergensi ke ORARI.

Keesokan harinya (23 Desember 2010) Tim berangkat menuju ke Pagai Selatan untuk kemudian merapat ke Km. 32 yang direncanakan akan dijadikan Posko selama berada di Pagai Selatan. Selain motor trail, digunakan pula 2 unit kendaraan berupa truck charter untuk menunjang pergerakan Tim. Hari ini kegiatan di fokuskan untuk setup posko, jalur komunikasi,logistic, dan assessment.
Setelah mendapatkan data yang cukup, pada tanggal 24 Desember Tim mulai bergerak untuk memberikan pelayanan kesehatan, pemberian paket logistik serta pelayanan trauma di Desa Mounte Kecil. Kemudian ke Desa Sabiret keesokan harinya.


Dalam perayaan Natal tahun ini masyarakat Pagai Selatan merayakannya di Desa Bulasat yang terletak di Km. 37. Gereja yang dibangun darurat terbuat dari kayu dan beratapkan terpal. Dengan kondisi tempat yang bisa dibilang tak layak seperti ini tetapi tak mengurungkan niat masyarakat untuk tetap menghadiri perayaan Natal.

Selesai mengikuti acara Natal, Tim langsung berkemas dan kembali bergerak ke Dermaga Polaga Pagai Selatan untuk menunggu kapal yang akan menyeberang ke Pelabuhan Sikakap. Dalam skenario yang telah disepakati daerah operasi berikutnya adalah Pagai Utara.
26 Desember 2010. Waktu menunjukkan pukul 09:00 WIB. Setelah sarapan pagi Tim bergerak menuju Desa Takako Dusun Kaute untuk melakukan pelayanan kesehatan, pemberian paket logistik dan trauma healing. Di Desa tersebut ada beberapa Gereja dan rumah yang dikunjungi karena banyak masyarakat yang mengalami keluhan tentang kesehatan.
Kegiatan di Pagai Utara ini dilaksanakan sampai tanggal 29 Desember 2010.

Berikut data operasi pelayanan kesehatan :


GRN mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Principal, Teachers dan Parents Global Jaya School yang telah membimbing seluruh siswanya untuk memberikan dukungan material pada kegiatan ini.

Sumber : GRN/Sofyan
11 Januari 2011Atek

Categories: Mentawai
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.