Home > Wasior > Kabar dari Wasior IV

Kabar dari Wasior IV

Selain merambah ke titik paling Utara di Teluk Wondama yang terkena bencana, melakukan assessment dan memberikan bantuan logistik kepada masyarakat di kampung Dotir yang terpaksa membuat tempat tinggal sementara di tengah hutan, tim GRN mencoba menjelajahi titik di area Selatan Teluk Wondama. Tim bertemu dengan Paul Sambery, seorang pegawai distrik Wondoboi yang baru saja mendapat ancaman warga akan masalah klasik yang sering ditemui di tempat bencana, persoalan tidak sampainya bantuan logistik.

Bersama beberapa pegawai dan pemuda kampung Wondiboi, tim GRN melakukan assessment dan menelusuri titik-titik pengungsian masyarakat Wondiboi berjumlah 254 KK yang konon mengungsi di 18 titik. Perjalanan penuh tantangan ditempuh melewati berbagai rintangan alam dilewati hingga tim dapat mencapai titik-titik pengungsian yang belum terjangkau di desa Tandia. Betapa trenyuh nya menemukan sekelompok nelayan yang lari ke gunung karena trauma.

Mereka membangun ‘rumah darurat’ dari kayu-kayu yang ditemui di hutan. Beberapa diantara kamp yang dibangun di tengah hutan tersebut dihuni beramai-ramai dengan banyak bayi dan balita hanya ditutupi dinding kulit kayu dan beratapkan terpal yang tak cukup untuk menutupi samping kiri kanan saung. Sungguh ironis jika kita lihat tenda oranye dijejer badan nasional yang bertanggung jawab menanggulangi bencana di sepanjang jalan di kota Wasior atau dipasang hanya digunakan untuk parkir motor di tengah rumah-rumah yang tidak terkena bencana.

Masyarakat Tandia menjadi tak ramah karena didera trauma yang dalam harus berlari dikejar banjir yang hanya 30 menit datang dan pergi. Menghadapi masyarakat yang bermuka tegang tanpa senyum tim GRN merasa ciut teringat masalah politik dan keamanan yang sering mencuat di Papua. Tim terus mendata kamp-kamp yang tersembunyi di hutan hingga ujung desa Sendrawoi dimana ditemukan desa yang telah tersapu banjir dan ditinggalkan oleh penduduknya. Dari 2 orang yang tinggal disana didapat informasi bahwa seluruh penduduk desa telah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.Ingin rasanya meneruskan kembali mencari kamp-kamp mereka di atas gunung, namun jalan telah terbelah dua. Lebih parah dari jalan yang tercabik-cabik dan jalan yang menjadi sungai yang sudah kami lalui. Dengan pertimbangan keamanan tim kembali dengan penuh perjuangan karena harus melewati medan yang penuh lumpur.

Tim GRN kembali memberdayakan masyarakat korban bencana. Setelah melakukan pendataan, sekelompok ibu-ibu dari kampung Wondiboi membantu mengepak 250 paket sembako bagi masyarakat di distriknya. Banyak cerita yang mereka hadirkan. Banjir paling dulu tiba di desa mereka yaitu jam 6 pagi, sedangkan di Wasior kota banjir baru datang 3 jam kemudian. Salah satu keluarga mencoba berlari, bapak, ibu dan anaknya yang masih remaja. Sang ayah selamat karena tersangkut di pohon. Anaknya pun selamat karena tertambat batang pohon yang melintang. Namun baru ditemukan sore hari setelah seharian berteriak-teriak minta tolong. Lumpur menutupi tubuhnya hingga dada sehingga tak bisa bergerak dan keluar. Malangnya sang ibu meninggal dunia, ditemukan 2 hari setelah bencana setelah seekor anjing menunjukkannya. Anehnya anjing tersebut ngeloyor pergi setelah memberitahukan jenazahnya.

Esoknya semua keluarga pengungsi dari distrik Wondiboi yang telah terdata mendapat paket sembako termasuk mereka yang tinggal di gunung. Masyarakat dan pengurus distrik merasa puas dan senang. Untuk tim GRN kebahagiaan mereka adalah sebuah apresiasi.

Global Rescue Network Amalia Yunita & Atek

Categories: Wasior
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.